MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

PUISI


CATATAN

Cinta yang sembunyi dalam dirinya sendiri adalah ketakutan tak memiliki batas, seperti niskala. Tradisi, kolonialisme, dan kemiskinan jurang yang menganga menelan ilmu pengetahuan, seperti apakah rupa keindahan? Adalah kesetiaan membacakan cerita-cerita perjalanan dalam lubang gelap yang ditulis dari rindu dan kasih sayang.

2010


CATATAN 2

Kesedihan ibarat hutan gundul, lautan kehilangan sungai dan tanah ditumbuhi sampah. Manusia adalah pikiran yang membawanya ke dalam kehancuran yang mengikis jiwa menjadi kerdil, seperti tikus dalam krangkeng. Kelambu kegelisahan harus ditutup kemudian tulis mimpi dibawah bantal sebelum mencuci kaki dan menggosok gigi sebab harapan adalah awal dari segala kemungkinan. bukanlah batu yang memecahkan kaca jendela, akan tetapi tanganmu yang terlalu keras menutupnya seperti dunia luar yang menggambarkan peristiwa tetapi hati masih diliputi sesal.

2010


CATATAN 3

Masih adakah yang akan kau tanyakan tentang aku, kamu dan mereka? Hujan pun sudah selesai ketika langit berubah biru. Sebuah dunia ibarat sepiring nasi di tengah kelaparan, tak ada sisa, sungguh menunggu adalah piring yang tergeletak seperti api dari korek api, tanpa kayu dan bensin. Masih adakah yang akan kau tanyakan tentang nasi, piring dan korek api? Aku adalah dirimu dan kita seperti mereka, tak berfungsi jika hanya menyimpan tafsir. Letakkan sepatu, dasi dan kemeja melangkahlah dengan sederhana!

2010


Note : Puisi ini telah diterbitkan di Kabar Banten.
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893