-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Bulan Muram

catatan ini aku temukan di facebook seorang teman, setelah diingat-ingat ternyata aku menulis langsung di laptopnya saat itu di sebuah malam dengan secangkir kopi dan ia terus saja bercerita.


Malam. bulan tertutup awan, warnanya perak: muram dan gelisah. Aku memandangnya dari jendela kamar, jauh sekali seperti perasaanku yang tengah menyusuri masa lalu dengan kehampaan. Benarkah kegetiran adalah kebahagiaan yang tertunda? Setengah hati aku mempercayai itu, kenyataannya hingga saat ini aku masih meratapi hidup. Lebih tepatnya cintaku. Aku seorang janda, tertindas oleh lelaki, walau aku masih berpikir yang baik tentang lelaki. Tetapi kenyataan pahit sudah terjadi, aku benar-benar sendiri. kualihkan pandangan ke dalam kamar, anak-anakku tertidur pulas. Dan pandanganku terhenti di sebuah foto pernikahan, foto dari sebuah masa lalu. Ah, masa lalu memang kejam. Tiba-tiba peristiwa lamaran itu muncul dalam kepalaku.

"Maukah kamu menjadi pendampingku seumur hidup." Ucapnya, dengan senyum yang menawan. Aku tersanjung.

"Tentu." Jawabku pendek.

Ia memegang tanganku, membelainya dengan lembut kemudian menciumnya. Hatiku berdebar-debar, gemetar bahagia. Ia lelaki yang sangat jantan, menyatakan perasaannya tanpa ada keragu-raguan, pastilah ia akan menjadi lelaki yang paling setia yang akan aku miliki.

"Kita akan membina rumah tangga dengan cinta, dan rumah kita akan dihuni oleh anak-anak yang lucu."

"Dan aku adalah wanita yang paling beruntung mempunyai suami seperti dirimu."

Hujan turun, melunturkan segala ingatan dalam kepalaku. hilang, peristiwa lamaran itu lepas tak tergenggam. Kini aku menatap jauh kembali, ke luar kamar. Mendendam akan kehancuran cintaku. Keterpurukan yang tak bisa dibayar oleh apapun, ingin rasanya malam ini menjerit, menghacurkan foto itu. Aku beranjak dari tempat duduk, kemudian rebah di samping kedua anakku yang tertidur. Dan mata memandang langit kamar, menembus. Ku sadari, peristiwa masa itu muncul kembali begini cerita selanjutnya:

“Seminggu dari sekarang kita akan menikah, sayang.” Ucapnya lagi.

“Benarkah?” Aku tak percaya mendengarnya.

“Sungguh.”

“Apakah tidak terlalu cepat?”

“Lebih cepat, akan lebih baik.”

Dan kemudian kami menikah, pernikahan itu mengejutkan seluruh keluargaku. Harus bagaimana lagi, memang ia sudah menjadi takdirku. Hati kecilku masih belum menerima, aku memang mencintai dia, tetapi aku pun mencintai lelaki lain. Bagaimana ini? Mungkinkah aku wanita jahat? Ah, ini sudah tak bisa dielakkan, sebelum hari pelamaran itu kakak kandungnya meninggal dan ia menginginkan kami segera menikah. Sungguh pernikahan dari keinginan orang lain akan menghantui seumur pernikahan itu.

Aku ingin menceritakan ketika pelaksanaan pernikahan itu, agar ceritaku ini terbaca berurutan. Acara pernikahan itu sangatlah ramai, sungguh di luar dugaan. Seluruh kerabat, sahabat dan orang tak aku kenal pun turut hadir, mengikuti pesta pernikahan yang sederhana. Musik-musik dari berbagai jenis aliran mengiringi pesta kami. Kursi pelaminan bertabur bunga, aku mengenakan pakaian pengantin seperti putri-putri raja. Bahagia, walau terkadang aku merasa khawatir lelaki lain yang aku cintai hadir. Akan tetapi, ia tak muncul bahkan tidak tahu sama sekali. Acara semakin meriah, sangat meriah.

Perasaannya bercampur aduk, tak percaya apa yang tengah terjadi dengan diriku. Sebagai wanita tentu aku merasa bahagia mendapatkan pinangan dari seorang lelaki, namun disatu sisi aku pun ingin merasakan hidup yang masih bebas tanpa tanggung jawab dan terikat, menemukan jalan hidup dengan sendirinya. Mendapatkan hasil dari pencarian keinginan, bisakah aku memulai hidup baru ini tanpa masalah apapun? Pesta telah usai, kami lelah di atas ranjang. Ia mendekapku, berbisik seribu kata cinta yang semakin membuatku galau. Dan kami berciuman, tiada henti hingga tertidur pulas dalam keletihan.

***

“Kamu bukan wanita pilihanku ternyata.” Ucapnya.

“Maksudmu?” Tanyaku heran.

“Sembilan tahun kita menikah, aku tak mendapatkan apa-apa darimu.”

“Milikku sudah kamu miliki seluruhnya, apa masalahmu? Pasti kamu memiliki wanita lain bukan?”

“Tidak.”

“Bohong, pasti ada. Ya, aku juga paham kalaupun ada kamu pasti tak akan mengatakannya.”

“Aku tidak merasakan kepuasan hidup denganmu, impianku berantakan.”

“Impian? Apa? Bukankah aku telah memenuhi seluruh keinginanmu?”

“Kita cerai!”

Kalimat itu menggelegar dalam telingaku, menyambar seluruh organ tubuhku. Lemah, dan aku terjatuh di atas sofa. Ia pergi meninggalkanku, tanpa bicara apa-apa. Apakah ini adalah pengorbanan? Tidak, ini bukan pengorbanan tapi kebodohanku memutuskan untuk menikah dengannya. Kalau saja, dulu aku tidak menerima lamaran itu dan mengejar lelaki yang lebih aku cintai dibanding dirinya. Mungkin ini tak akan terjadi, dan aku pasti bahagia bersama lelaki idamanku. Suamiku sungguh sangat berbeda dengan lelaki idamanku, ia keras kepala dan kasar. Mengapa aku katakan demikian setelah sembilan tahun menikah? Karena ia pernah memukulku, dan tentu aku yakin dengan seyakin-yakinnya dia punya selingkuhan. Oh Tuhan, bagaimana nasib anak-anakku jika perceraian akan terjadi dikemudian hari. Aku berusaha bangkit, dan kuhampiri kedua anakku kemudian kudekap erat.

Esoknya aku dan dia pisah ranjang. Mungkin itu lebih baik, dari pada aku bersama dengannya tetapi hatiku terus dilukai dengan sikapnya. Aku merasa kesepian, sendiri tak ada yang menemani. Aku berusaha untuk mengabaikan, hidupku mulai kubuka kembali; bekerja, berorganisasi, dan melakukan aktivitas lainnya yang berkenaan dengan kemanusiaan. Aku tak ingin mati berdiri, hidupku harus kutata kembali. Tetapi hari perceraian itu akhirnya terjadi juga, ia pergi dan tak kembali lagi hingga akhirnya aku dengar kabar ia menikah kembali. Sungguh bajingan!

***

“Mamah, kenapa menangis?” Tanya anak perempuanku.

Aku terkejut, malam ini sangat suram dan bulan sepertinya masih muram diluar sana. Kuseka air mataku, dan kupeluk ia. Berat memang hidup sendiri, menjadi janda. Banyak cibiran, hinaan dan bahkan godaan dari lelaki lain. Tetapi aku harus hidup. Harus, harus, harus. Ku selipkan foto pernikahan dibawah bantal sementara anak perempuanku mengusap air mata yang perlahan menetes di kedua pipiku.

“Aku teringat papahmu.”

Dan malam semakin larut, kita menangis tiada henti, entah sampai kapan.


(Malam bersama Nana Sastrawan, dan ia menulis ini untukku)
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893