-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Cinta Cabe-Cabean



Dari kejauhan aku melihat seorang pengamen remaja turun dari bis kota. Usianya sekitar lima belas tahun, mungkin hanya berbeda dua tahun denganku. Dia memakai pakaian yang sangat modis, sangat tidak wajar untuk seorang pengamen.
            “Cabe oranye,” kata Siska.
            Aku memandang wajah Siska, dia malah tersenyum sambil menghisap rokok dengan begitu nikmat.
            “Itu sebutan bagi mereka. Cuma… lo tahu dong! Harga di bawah standar.”
            Dia menyodorkanku sebatang rokok, dengan ragu aku mengambilnya. Lalu Siska menyalakan korek dan menyodorkan kepadaku. Beberapa detik kemudian rokok itu telah terbakar di sela-sela bibirku.
            “Lo liat tuh!”
            Siska menunjuk seorang remaja yang keluar dari sebuah mini market, dia memakai hotpants dan t-shirt, sehingga lekuk tubuhnya sangat jelas terlihat, rambutnya panjang dan sangat centil, sesekali dia mengibaskan rambutnya, membuat orang yang melintas tergoda untuk sekadar memerhatikannya.
            “Sebentar lagi pasti dia dapat pelanggan,” kata Siska.
            Aku memerhatikan remaja itu, dia berdiri di sudut yang agak gelap sambil asyik memainkan ponsel. Dan disekitarnya ada beberapa remaja juga yang berdiri dengan pakaian yang tidakjauh beda, sambil sesekali melambaikan tangan ke mobil-mobil yang melintas.
            Sebuah mobil berhenti di depan remaja itu, aku tidak bisa melihat jelas apa yang dilakukan mereka, namun sepertinya mereka tengah mengobrol.
            “Harganya lumayan tinggi kalau yang ini.”
            Aku semakin memerhatikan mereka.
            “Cabe Merah, itu sebutannya.”
            Kemudian, remaja itu masuk ke dalam mobil lalu melaju ke jalan yang semakin ramai. Aku menarik napas, di tengah kota seperti ini para remaja senang berkeliaran ketika matahari terbenam.
            Tiba-tiba tanganku ditarik oleh Siska.
            “Ayo cepat!”
            Aku mengikuti langkahnya menyebrangi jalan dan masuk ke dalam sebuah mall yang sangat megah. Kami sudah ada janji dengan seorang pengusaha muda, Siska mengenalnya lewat facebook, mereka sudah sering chat.
            “Dia udah nunggu di kafe,” kata Siska sambil membalas pesan dari ponselnya yang mahal.
            Mataku menatap ke sekitar toko-toko yang kami lewati. Baju-baju mahal, ponsel-ponsel mahal dan berbagai macam aksesoris yang sangat nyentrik. Siska sudah memiliki itu semuanya, bahkan dia yang paling glamor di sekolah kami. Dan sebentar lagi, aku juga akan mendapatkan itu semua, seperti Siska. Tidak ada yang salah bukan jika remaja cantik seperti aku ini memakai busana yang mahal? Aku juga ingin disebut ‘gaul’ bahkan dikagumi oleh teman-teman se-usiaku dengan barang-barang yang mahal.
            Rudi, pacarku itu tidak bisa diandalkan. Dia hanya bisa menjajaniku di warung-warung kaki lima, sangat tidak keren. Sekarang aku dan Siska akan makan di kafe, kemudian jalan-jalan sambil membeli barang yang aku mau, setelah itu….
            “Awalnya memang sakit. Tapi… enak kok!” Siska nyengir.
            Aku membayangkan itu, geli juga! Siska memang cabe ijo yang profesional, semoga saja apa yang aku butuhkan bisa segera terpenuhi bersama Siska. Amin…
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893