MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Haru Biru Pagi

Oleh Nana Sastrawan

Kota terbangun. Langit pagi; biru muda tercampur awan putih yang telah menjatuhkan embun. Semua tidak pernah basah, tersapu roda-roda mesin dan sepatu-sepatu yang terbuat dari kulit binatang. Di pinggir jalan, seorang lelaki tua membawa karung, memandang sebuah gedung biru. Rambutnya tebal, kusut bergelombang jatuh pada bahunya. Pakaiannya seperti kain-kain robek yang dijahit, penuh tambalan. Kumal dan hitam. Tampak seluruh kesengsaraan menempel diwajahnya, sesekali ia menyeringai menatap para lelaki muda yang turun dari mobil; Kijang, Mitsubishi, Suzuki, Honda, Audi dan lainnya. Mobil-mobil itu mengelilingi seluruh halaman gedung itu, disusul perempuan-perempuan muda berpakaian ketat dan mini. Cantik juga sexi.

Ia duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Sementara pedagang rokok disampingnya memberikan sebatang rokok yang terlebih dahulu disulut. Aroma busuk tercium dari tubuhnya, bau yang tak pernah hilang dari seorang petualang. Bau jalanan, debu dan kaki lima serta pasar. Namun dalam penderitaan yang sangat terlihat, ia hanya tertawa sendiri menghisap rokok, sesekali bernyanyi. Lagu perjuangan.

Keadaan sungguh tak nyaman, baik dijalanan maupun di depan gedung. Macet, ramai dan wajah-wajah saling mengejek. Agaknya sangat berbeda suasana pagi ini, diliputi kemelut kebencian serta kemarahan dari setiap orang. Mereka sering kali mengumpat bahkan meludah dan menatap penuh berahi pada bentuk tubuh. Klakson berbunyi, suaranya seperti terompet tanda mulai peperangan. Asap mengepul hasil pembakaran mesin diesel; metromini dan kopaja. Membumbung tinggi mengaburkan pandangan.

Tetapi, di luar perhitungan, pertunjukan pagi tiba-tiba gawat. Lelaki tua mendadak berlari ke depan gedung sambil melempari mobil-mobil, kaca gedung dan orang-orang yang berlalu lalang di depannyan oleh batu yang didapat dari dalam karung. Tegak menantang, pandangannya tajam memerah, tangannya mengepal, ia berteriak lalu menjerit dan diakhiri dengan tawa terbahak. Semua panik, kaget, heran dan gelisah. Bahkan ada yang mengatai lelaki tua itu “orang gila.” Pedagang rokok menatap haru, ia menangis. Menghampirinya kemudian memapah menuju warungnya, sambil terus berbisik. “Pak, sembuhlah! Kita sudah merdeka.”


Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893