-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

STUDI KOMPARASI: KITAB HUJAN DAN RIMBA DALAM SAINS

Membaca dua buku kumpulan puisi dari dua penyair yang berbeda tentu saja akan didapatkan dua pola pembacaan dan dua interpretasi yang berbeda darinya. Satunya karya Nana Sastrawan yang berjudul “KITAB HUJAN” dan lainnya adalah “RIMBA DALAM SAINS” karya Atik Bintoro. Keduanya buku puisi yang terbit berbeda tahunnya, yang satunya baru terbit awal tahun 2010 dan buku kedua sudah beredar dari tahun 2008. Namun disinilah letak keunikan buku-buku seni; selalu relevan walau waktu terus berjalan, dan karena itu pula tulisan ini dibuat.


LATAR BELAKANG

Membaca puisi berarti juga membaca sepotong demi sepotong biografi dari penulisnya, karena puisi-puisi yang tercipta tentunya lahir dari ruang dan waktu yang melingkupi sang penulisnya.


Nana Sastrawan adalah seorang muda yang terlahir pada tanggal 27 Juli 1982, ia selalu menjadi juara kelas waktu di sekolah. Ini menandakan kemampuan kognitifnya yang terasah dengan baik. Suka menulis puisi sejak kecil dan selanjutnya mendalami pergaulan dalam forum-forum penyair. Puisi pertamanya dimuat harian lokal di Tegal. Kemudian puisinya dicetak dalam antologi “Menggenggam Cahaya”, setelah itu terbit buku kumpulan puisinya sendiri “Nitisara” dan yang kedua adalah yang dibahas kali ini “Kitab Hujan”.


Sementara Atik Bintoro atau yang biasa dipanggil Man Atek oleh sahabat-sahabatnya adalah seorang peneliti desain roket, misil dan satelit di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Lahir pada tahun 1964 di desa Jajag, Banyuwangi. Mengenal seni sejak di bangku Sekolah Dasar melalui kegiatan janger cilik dan drama agustusan. Setelah SMA masih menekuni seni bersama Bengkel Seni Putra Sang Fajar, Kentrung kontemporer dan Teater SMAN Genteng di Banyuwangi. Dan sejak 2007 setelah lama tak terusik oleh kegiatan kesenian, ia kembali aktif bergabung dengan komunitas puisi Bunga Matahari. Dari pergumulannya selama ini telah terangkai dalam buku puisinya “Rimba Dalam Sains”.


TEMA DAN PENULISAN

Secara tematik mungkin kita bisa membaca perbedaannya setelah membaca latar belakangnya. Nana lebih terinspirasi dengan tema-tema ruang. Ruang disini bisa saja hanya pemandangan kota tua, kuburan yang lengang, Pantai yang eksotis dan lain sebagainya.


Sedang Atik lebih mendekati tema yang bersifat peristiwa. Seperti peluncuran roket, ujicoba misil, percobaan fisika dan lain sebagainya.


Sementara didalam penulisannya keduanya terkadang masih memakai rima yang tertata rapi sebagaimana layaknya puisi lama. Walau kadang kala keduanya juga mencoba pola-pola yang tak teratur pada beberapa puisinya.


Yang mungkin luput difahami pembaca adalah, banyak puisi-puisi dari Nana Sastrawan yang tercipta sesudah ia melisankannya dalam acara-acara seni dan ini perbedaannya dengan Atik yang menuliskan apa-apa yang memukau kesadarannya.


Selain itu yang patut dibaca dari pola penulisan keduanya adalah pendekatan yang berbeda dalam memandang suatu ruang atau peristiwa. Nana cenderung melihat ruang sebagai suatu peristiwa teatrikal yang bertaut erat dengan interpretasi serta pengalamannya secara pribadi. Ini yang menjadikan banyak puisi-puisi Nana menjadi naratif dan lebih menantang untuk dituangkan dalam sebuah pentas teater seperti yang dilakukan Teater KOIN yang menggubah puisi-puisi Nana dalam pementasannya. Sedangkan Atik lebih kepada menganalisis kejadian kesehariannya di LAPAN dan mengkontemplasikannya dalam puisi. Ini yang membuat puisinya dipenuhi dengan kosakata ilmiah seperti reaktor, propelan, amonium, karsinogen, aerodinamik dan seterusnya. Atik tanpa disadari telah menyandingkan kosakata dalam bidang eksak dengan non eksak, dan ini memperkaya perbendaharaan ragam dalam puisi Indonesia.


EPILOG

Dari deskripsi yang mungkin belum tuntas diatas kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwasanya sebuah puisi adalah sebuah ruang personal bagi penulis serta pembacanya. Banyak tafsir yang dapat diangkat dalam sepotong puisi yang baik. Dan perlu diketahui bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk mencari mana yang lebih baik diantara keduanya karena itu sama saja mengingkari kesederajatan manusia di dunia ini.


Studi komparasi ini hanya memberi secuil informasi yang mencoba melengkapi apa-apa yang sudah tertulis dalam buku itu sendiri. Kalaupun Anda memiliki perspektif tersendiri tentang dua penyair ini, tak ada salahnya menuliskannya sehingga membuka ruang apresiasi yang lebih luas lagi dan mencerdaskan semua pecinta seni puisi.


Tulisan ini sudah dimuat di Mingguan SULUH Banten edisi 98 8-14 Maret 2010
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893