-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

MARI BERKARYA


Radar Tangerang, edisi sabtu-minggu 20-21 November
BUKAN SENI YANG MURAH

KESENIAN teaterikal rupanya banyak memberikan manfaat, namun memerlukan biaya yang besar pula untuk memberikan penampilan yang sempurna. Nana Sastrawan salah satu penggiat dan pengajar seni teater sekaligus penulis puisi mengatakan, kesenian teaterikal bukan kesenian yang membutuhkan biaya sedikit. “Kalau hanya pentas apresiasi itu memang membutuhkan biaya sedikit, namun kalau pentas real seperti mengikuti festival itu jelas membutuhkan biaya besar, mulai pelatihan, kostum, properti serta kelengkapan pentas lainnya,” terangnya.

Materi merupakan salah satu kesulitan dalam melakukan persiapan pementasan Seni Teaterikal, demikian ungkap Nana. Namun, komunitas seni juga harus mencari sponsor, untuk persiapan pementasan. “Kadang kami juga harus mencari dana bantuan dari sponsor, apalagi untuk pementasan utuh yang membutuhkan dana hingga puluhan juta dan persiapan matang dari naskah serta pelatihan,” ucap Nana.

Menurut Nana, menulis naskah juga bukanlah hal yang mudah, jika konsentrasi tidak menurun maka naskah bisa selesaikan dalam satu malam. Namun jika konsentrasi sedang turun bisa-bisa naskah bisa larut berhari-hari. “Membuat naskah tidaklah mudah, karena seorang penulis harus mampu menciptkan konflik, dan alur cerita dari awal hingga akhir. Kalau penokohan terlalu sulit, bisa jadi sulit dimengerti juga oleh pelakon. Jadi jangan sampai itu terjadi. terakhir buatlah cerita itu semenarik mungkin untuk penonton,” tandas pria kurus dan jangkung itu. ( aditya/ulfa )
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893