-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Wajah Dalam Cermin


Tak sekejap yang kubayangkan tiba-tiba aku ambruk. Terbatuk-batuk dan menangis, aku menutup wajahku dengan tangan yang terluka kemudian kusebut berulang kali nama asliku. Bagiku nama asli tak memiliki nada khusus, akan tetapi ketika kusebutkan ada rasa lembut, tajam dan pahit bagai pahitnya ujung mentimun. Dalam lubuk hati. Aku ulang kembali nama itu, aku memekik dan berteriak. Aku tengah mengalami dampak buruk dalam seluruh kehidupanku, sungguh benar-benar aku merasakan kepedihan dan terus saja menangis dalam keadaan terkelungkup sementara kaca-kaca berserakan dari pecahan cermin.

Aku pikir, menangis akan mengurangi sebuah penyesalan atau kekecewaan dan aku akan merasa baikan dalam beberapa menit, jam, hari, bulan, tahun atau bahkan mungkin dalam beberapa abad. Aku hanya menduganya. Aku sudah tak peduli pada waktu, sebab waktu telah menikam harga diriku dalam hitungan usia. Bagaimana mungkin dalam usia tujuh belas tahun aku merasakan perbedaan pada sifat, kelakuan dan kebiasaan pada diriku? Lebih tepatnya aku memiliki penyimpangan prilaku. Keadaan yang kurasakan ini berada dalam luar pemahaman manusia yang biasa-biasa saja, aku pun tak tahu jika aku memiliki keadaan yang ada di luar dari keadaan fisik.

Aku bangkit, ketika kugerakan tubuhku terasa linu. Kemudian berjalan menuju cermin, kugosokkan kedua tanganku, benar-benar wajah yang mengerikan! Darah melumuri seluruh bagian mukaku, darah dari tangan yang terluka. Aku mulai menarik-narik mata dan kedua sudut mulutku, kugembungkan pipiku, kubelai-belai rambutku yang panjang dan aku mulai menikmati wajahku di depan cermin. Wajah ini sangat berbeda dari wajah-wajah yang telah aku ciptakan di cermin-cermin sebelumnya, cermin yang telah aku pecahkan dengan tinju tangan-tanganku. Kau tahu? Aku mampu menciptakan berbagai macam mimik di wajahku; lucu maupun menakutkan. Aku sangat mengetahui ekspresi mereka, yang mampu membuatku tertawa, menangis dan membenci. Mereka semua wajahku. Tidakkah terpikirkan bahwa substansi dari ekpresi-ekpresi wajah merupakan respons dari rangsangan yang tak jelas yang tercipta karena adanya keragu-raguan? Semua itu cenderung membawa manusia ke dalam kekecewaan, lebih mengerikan lagi kegilaan. Namun aku terpaksa menampilkan mimik-mimik ini, hanya karena aku tak ingin mendengar nama asliku dipanggil oleh setiap manusia. Nama yang sungguh menyakitkan jika terdengar, karena aku merasa nama itu bukan bagian dari pikiran dan perasaanku.

Sekali lagi, kutatap mimik wajahku sebelum aku memutuskan untuk mengubahnya dengan wajah asliku, wajah yang sangat kudambakan. Aku berjalan menuju wastafel dan kubasuh seluruh darah yang menempel di seluruh bagian wajahku. Selanjutnya kukeringkan darah yang melekat di kedua tangan lalu kubalut luka, aku seperti tengah menemukan sebuah harapan ketika melakukan itu semua. Setelah itu, aku menghadap ke depan cermin. Ku buka kotak riasku dan mulai ku kenakan bedak, lipstik, blush on, eye shadow dan alat rias wajah lainnya. Aku menemukan diriku sendiri pada wajah yang terhias ini, wajah yang cantik yang didambakan oleh setiap lelaki. Dan ketika aku memakainya di luar sana seakan seluruh kebutuhan hidupku telah terpenuhi. Aku sangat bahagia. Namun, ditengah kebahagianku tiba-tiba terdengar suara memanggil, suaranya kasar dan berisikan perintah. Aku muak mendengar suara itu, kepalaku mendidih, dadaku panas dan hatiku bergejolak. Tanganku mengepal, gigi gemeratak, nafas memburu. Ku tinju cermin yang menampilkan wajah kebanggaanku, berulang kali. Hingga akhirnya cermin hancur berserak di lantai, darah mengalir dari tanganku namun suara itu terus saja memanggil “Yulianto…. Yulianto.. cepat kau keluar dari kamar, temanmu menunggu untuk latihan karate. Jadilah laki-laki kuat dan pemberani!”
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893