-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Mawar Dalam Jeruji


“Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Jadi kamu jangan berpikir hidupmu tak berarti. Yang kamu harus lakukan adalah sabar dan bersyukur, itu saja.” Ucap Guluh.

Lelaki itu kuyup. Tulang dadanya terlihat akibat kaos putih yang dikenakan basah air sungai, nafasnya masih terengah-terengah seiring jakun yang turun naik. Badan kurusnya sungguh lincah berenang di arus yang deras menarik tubuhku terbawa hanyut. Sementara di tepi sungai ini aku duduk menelungkup memandang arus sungai yang membawa berbagai macam sampah.

“Kau tidak mengerti Guluh.” Kataku pelan.

Guluh memandang mataku, seakan ingin membongkar rahasia yang ada dalam hatiku. Rahasia yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Kemudian ia duduk di sampigku namun matanya memandang jauh ke sebrang sungai, perbukitan yang hijau.

“Untuk apa kau bunuh diri? Tak ada yang selesai dengan cara itu.” Tanyanya.

“Percuma aku hidup jika hidupku bukan untuk diriku sendiri. Aku ingin tenang!”

Entah apa yang merasuki pikiranku sehingga melompat ke sungai berarus deras. Yang ku tahu air mata terasa asin, meleleh di wajah. Guluh mengusap kepalaku dan merebahkan di pundaknya. Hatiku terasa nyaman jika berdekatan dengannya, ia selalu ada ketika hatiku rapuh. Mungkinkah ia malaikat yang diciptakan tuhan untukku? Entahlah, yang kurasakan saat ini benar-benar kacau.

Aku anak kedua dari tujuh bersaudara, keluargaku terpuruk ketika ayah meninggal tiba-tiba akibat serangan jantung yang dideritanya. Sejak itu, kakak laki-lakiku berubah menjadi orang yang bengis. Harta warisan ayahku tak disisakan untuk keluargaku, mungkin ia terhasut oleh istrinya yang biasa hidup mewah. Aku tak pernah menduganya. Akan tetapi ibu selalu membelanya dan tak sedikit pun cela yang ibu katakan, semua baik di matanya. Sementara adik-adiku masih terlalu muda untuk mengerti hal itu, mereka masih butuh pendidikan, kebutuhan moral dan juga materi.

“Sebaiknya kita pulang!” Ajak Guluh.

Aku terperanjat, tak ada sedikit pun keinginan untuk pulang ke rumah saat ini. Aku telah benar-benar membenci ibu. Semua pengorbanan yang aku lakukan tak pernah berarti bagi dia, segalanya kurang dan salah. Aku bekerja siang dan malam hanya untuk keluargaku agar secara ekonomi tak kekurangan, adik-adikku bisa sekolah dan bermanja-manja di rumah. Sementara aku membunuh keinginan sendiri hanya untuk keluarga. Tak ada yang berarti? Mungkinkah aku bukan anak ibuku? Ah, pikiran itu telah merasuki setiap hari ketika rasa benci semakin tumbuh.

“Tenanglah! Aku akan bicara kepada ibumu tentang hubungan kita.”

Mataku memandang mata Guluh. Rambut panjangnya terkibas angin yang berhembus kencang, semakin terlihat bahwa ia adalah lelaki yang tangguh. Akan tetapi keinginan untuk hidup bersama dengannya belum bisa terlaksana, ibuku melarang aku menikah. Seribu alasan dilontarkan olehnya padaku, dari ucapnnya sangat nyata bahwa aku adalah tulang punggung keluarga. Aku sudah tidak muda lagi, usia dua puluh delapan tahun bagi perempuan sudah seharusnya menikah, teman-teman semasa kuliah sudah menikah dan memiiki anak yang lucu-lucu. Sementara aku hanya bekerja dan meratapi kehidupanku. Di sini aku berontak, aku tak ingin cintaku pun dikorbankan hanya untuk keluarga.

“Mengapa kau diam?” Tanya Guluh.

“Tinggalkan aku Guluh, tak pantas aku memilikimu. Kau baik dan bertanggung jawab, tapi aku sedang kacau.”

Usai berkata aku pergi meninggalkan Guluh yang terheran mendengar ucapanku, sementara air mata terus membanjiri wajah seiring angin yang berhembus menerpa tubuh yang kuyup. Apakah keinginan untuk bunuh diri akan datang lagi? Tak ada yang aku bisa lakukan sekarang hanya berharap semua kembali seperti dahulu. Langkahku semakin menjauh, hatiku kosong.
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893