-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

KARYA SASTRA, LISAN DAN ETNIK

Tulisan ini sudah dimuat di buletin Mata Aksara.

Oleh : Nana Sastrawan S.Pd

Bahasa adalah sebuah komponen paling penting dalam kehidupan. Setiap makhluk hidup memilikinya. Hewan, tumbuhan, alam semesta dan juga manusia. Akan tetapi, bahasa tidak pernah bisa dilepaskan dari diri manusia, Kenapa? Seperti diketahui bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Mereka memilki alat pikir dan rasa, yang bisa mengingat serta merasakan sehingga menimbulkan sebuah penciptaan. Katakanlah penciptaan itu adalah karya.

Karya yang dihasilkan manusia dalam bentuk bahasa beragam seperti dongeng, pantun, teka-teki, tembang, dan lain-lain sesuai dengan daerah manusia itu berkembang. Akan tetapi karya-karya itu berkembang kembali ketika manusia mengenal tulisan, sehingga karya-karya itu ditulis dan dibukukan. Dan manusia sekarang menyebutnya sebagai karya sastra.

Apa sebenarnya karya sastra? Mari kita pahami sejenak definisi dari sastra. Sastra berasal dari kata Castra berarti tulisan. Dari makna asalnya dulu sastra meliputi segala bentuk dan segala macam yang ditulis seperti ilmu pengetahuan, puisi, cerpen, novel, kitab-kitab suci, surat dan bentuk tulisan lainnya. Sastra sendiri sangat erat kaitannya dengan bahasa dan manusia itu sendiri sehingga terkadang dikatakan bahwa sastra adalah sebuah hasil budaya yang berusaha mengungkapkan gagasan dari pemikiran dan perasaan manusia melalui bahasa. Dari definisi itu jelas bahwa karya sastra tak bisa dilepaskan dari sebuah tulisan, apapun itu bentuknya.

Seiring perkembangan zaman, ilmu pengetahuan pun mengalami perkembangan. Banyak terjadi pengelompokan jenis karya sastra, sebut saja sastra lisan dan sastra etnik. Beberapa para disiplin ilmu mengatakan bahwa mantra, dongeng, pantun yang menjadi kebiasaan masyarakat di katakan sastra lisan. Kemudian jenis-jenis tulisan yang mengangkat kekayaan lokal termasuk sastra etnik. Apakah itu memang patut disepakati? Semuanya dikembalikan kepada masing-masing individu. Akan tetapi sebelum menyimpulkan marilah kita sejenak melihat definisi sastra di atas.

Jelas dikatakan bahwa sastra berkaitan dengan tulisan, akan terdengar aneh jika kita mendengar kata sastra lisan. Lisan berhubungan dengan bahasa yang dihasilkan oleh alat ujar dan hanya bisa didengar, sedangkan tulisan adalah sebuah bahasa yang tertera dan dibaca. Coba kita pikirkan? Mantra dan dongeng kerap kali dituding sebagai sastra lisan, karena keberadaan mereka jarang sekali terlihat dalam bentuk tulisan. Bisa jadi, ketika mantra diciptakan memang belum mengenal tulisan. Akan tetapi, mereka selalu membacanya dan menghafal turun temurun agar mantra tersebut tak dapat dilupakan. Mantra memang memiliki bahasa simbolik, akan tetapi bukan berarti itu adalah karya sastra. Jika mantra adalah karya sastra lisan (tanpa ada teks tertulis). Secara logika maka kebiasaan orang berdiskusi, berguncing bisa juga dikatakan sastra lisan jika mereka menggunakan bahasa lisan yang simbolik. Lalu bagaimana dengan bahasa tubuh, apa itu pun bisa dikatakan sastra gerak? Boleh dikatakan bahwa mantra dan dongeng adalah sebuah Tradisi Lisan.

Tradisi mendongeng, mantra dan berpantun sampai sekarang masih saja ditemukan walau keberadaan sudah tidak terlalu banyak ditemukan dikalangan masyarakat. Bahasa pada umumnya memiliki kesamaan makna walau berbeda pengucapan dan tulisan, karena pada dasarnya prilaku budaya masyarakat satu kesatuan yang membedakan hanya tempat, musim dan fisik.

Bagaimana dengan sastra etnik? Keinginan untuk menyeragamkan bahasa menggunakan bahasa nasional membuat bahasa-bahasa daerah terlupakan dalam karya sastra. Akan tetapi sebagian penulis konsisten dengan pilihannya menciptakan sebuah karya sastra dengan bahasa daerah, sebagian penulis juga menulis tema-tema lokal dengan bahasa nasional dengan tujuan kebudayaan lokal tidak terlupakan dengan penyeragaman itu. Namun, tidak semua karya sastra yang mengangkat tema-tema lokal dikatakan sastra etnik. Bahasa daerah sangat memiliki peran penting sebuah karya sastra itu dikatakan sastra etnik, artinya sebuah karya sastra etnik adalah karya sastra yang berupa tulisan dengan menggunakan bahasa-bahasa daerah.

Dengan demikian jelas bahwa pengelompokan karya sastra belum bisa dianggap sempurna jika kita mengacu pada definisi karya sastra itu sendiri. Ini harus segera diperbaiki sebelum generasi yang akan datang mendapatkan pengetahuan yang jelas-jelas menyimpang dari definisi sesungguhnya. Jangan sampai pengelompokan karya sastra ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan individu atau kesalahan menafsirkan.
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893