-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Teman Tapi Mesra


            “Hei, bengong aja!”
            Aku terkejut ketika Gilang menyenggol pundak.
            “Ah, kamu…”
            “Mikirin siapa sih?”
            “Mikirin siapa ya….”
            “Yeee… malah main rahasiaan!”
             Aku tersenyum, pandanganku tidak lepas dari wajah Gilang. Seseorang yang sudah lama berteman denganku semenjak masuk di sekolah  menengah. Dan pandangan kami tak bisa dihindari, mata yang indah telah menaklukan semuanya yang ada pada diriku.
            “Ke kantin yuk!”
            Gilang menarik tangan, membuatku terpaksa mengikuti langkahnya. Kami berjalan di tengah koridor kampus, rasanya semua mata memandang kami. Namun, Gilang tak peduli, dia malah menggenggam erat tanganku. Jantung ini berdebar-debar, menahan gejolak yang ada pada diriku.
            Siang yang panas, serupa diriku yang memanas di samping Gilang. Tak bisa aku pungkiri bahwa Gilang memang sangat menawan. Sebagai laki-laki, dia adalah tipe seluruh wanita. Aku juga tidak pernah tahu mengapa Gilang belum memiliki pacar, padahal tidak sedikit wanita di kampus melirik dan mendekatinya.
            “Mau makan apa?” tanyanya.
            “Apa aja deh…”
            Gilang memesan dua mangkuk bakso, makanan favorit kebanyakan mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini.
            “Mmm… lagi mikirin apa sih?” tanyanya lagi.
            “Nggak mikirin siapa-siapa.”
            “Pacar ya?”
            “Kamu kan tahu aku nggak punya pacar.”
            “Terus kemana bengong aja?”
             “Aku…”
            Suaraku terhenti di tenggorokan, tak bisa melepaskan segala pertanyaan yang ada di dalam hati ini.
            “Cie, cie yang lagi galau… hehe.”
            Aku tersipu malu, tatapan Gilang yang jantan membuat perasaan tak menentu. Dan tiba-tiba Gilang meraih tangan, senyumnya mengembang, dan aroma kelaki-lakiannya semakin tak bisa kukuasi diri.
            “Kita udah lama berteman, jadi jangan ada yang dirahasiakan.”
            “Aku… aku…”
            Sekali lagi suara ini tak bisa tuntas, pipiku juga pasti memerah.
            “Dela… aku sayang banget sama kamu.”
            Deg. Kata-kata yang membuatku semakin galau, dan ini bukan yang pertama kali. Gilang hampir setiap hari mengatakannya. Namun, dia tidak pernah menyatakan cinta padaku, dan jika dia katakan, aku juga tak pernah bisa membalas cintanya. Sudah terlalu lama kita berteman, kami sudah terlalu dekat. Mungkin perasaan canggung ini akibat aku terlalu memikirkan kata ‘sayang’ darinya. Aku takut semuanya berubah ketika kami menjadi sepasang kekasih.
            “Tapi jangan takut, aku juga merasa kita tidak bisa untuk menjalin cinta. Akan aneh rasanya kalau kita pacaran, biarlah rasa sayang ini sebagai teman, dan… kita juga bisa mesra bukan?” ucap Gilang.
            Sesaat kami terdiam, saling pandang, dan beberapa menit kemudian kami tertawa, menertawai kelakuan kami akhir-akhir ini.

            

Nana Sastrawan, Grafika Resort Cikole

Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893