MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Kota, Seniman dan Masyarakat

Nana Sastrawan

Kota Tangerang sudah lama dikenal sebagai “Kota Seribu Industri”. Akibatnya aktivitas-aktivitas kesenian di kota ini menjadi langka, terlebih lagi kesenian-kesenian yang high culture. Kenyataan ini diperparah lagi tidak adanya gedung-gedung kesenian yang representatif sebagai tempat berkumpul, bersilahturahmi, dan berkreasi diantara para seniman.
Namun, seniman sejati tidak pernah mengeluh dengan keterbatasan infrastruktur tersebut, seniman akan terus berkarya dan berkarya seperti yang ditunjukan seniman yang tergabung dalam Pencinta Seni Budaya Tangerang Serumpun.
Salah satu penggiat PSBT Serumpun, Nana Sastrawan mengakui insfratruktur di kota Tangerang masih sangat minim. Hal itu berimbas pada kegiatan-kegiatan kesenian yang akhirnya langka di kota Tangerang.
Berdasarkan pada keprihatinan itu Nana bersama seniman lainnya membentuk PSBT Serumpun. Tentu sudah banyak kegiatan-kegiatan kesenian seperti sastra yang dilakukan PSBT Serumpun.
“Di PSBT Serumpun ada seniman-seniman berkumpul seperti dari para sastrawan, penulis skenario, penulis cerpen, teater, ada juga beberapa komunitas seni serta beberapa seniman lainnya, termasuk di dalamnya para guru kesenian,” ungkap Nana, yang baru-baru ini telah menerbitkan buku kumpulan puisi bertajuk “Kitab Hujan”.
PSBT Serumpun tentu saja memiliki tujuan mulia, yakni ingin menghidupkan kegiatan kesenian dan kebudayaan Tangerang. Selain itu juga ingin mensosialiasikan seni kepada masyarakat agar mereka mengenal seni, dan menyambungkan silaturahmi seniman dengan masyarakat.
“Tujuan kami ingin membangun masyarakat Tangerang yang lebih beradab, biar lebih solid dan semangat dalam kehidupan. Kami juga berharap PSBT Serumpun ini bisa menyatukan seniman dan komunitas-komunitas seni di Tangerang,” ungkap Nana. (Budi Sabarudin/”KB”)

Catatan ini dimuat di koran “Kabar Banten” edisi 31 Mei 2010
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893