-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Dokter Jiwa

cerpen nana sastrawan
Oleh Nana Sastrawan

SUSTER MEKA menatapku dengan tajam. Seperti ingin mengulitiku diriku dengan kejam. Di tangannya beberapa kantong plastik berisikan butiran-butiran obat, sementara gemuruh guntur mengiringi langit mendung di luar kamar.

“Suster, apakah aku gila?”

Pertanyaan yang mengagetkan suster Meka. Seketika wajahnya berubah seperti merasakan hal lain dari pertanyaan itu. Aku masih saja duduk menatap ke arah jendela, memperhatikan rintik gerimis berjatuhan ke atas daun-daun.

Apakah aku memang benar-benar gila jika aku berada dalam rumah sakit jiwa dengan pasien yang gila? Kini aku jadi balik bertanya kepada diriku sendiri. Memang tidak mudah memeriksa dan merawat mereka yang terkadang di luar batas. Apalagi, ketika penyakitnya makin parah dan membuat onar sehingga harus dikurung atau disetrum untuk sekadar meredakan gejolak emosi mereka. Akan tetapi, ini adalah jawaban dari pertanyaanku mengapa aku berada di tempat seperti ini.

“Dok, jika ada masalah. Ceritakan padaku! Siapa tahu saya bisa bantu. Jangan menjadi pendiam. Saya juga baru dapat kabar bahwa istri anda baik-baik saja.”

“Kenapa tidak langsung mati saja dia? Aku tak tega melihat seluruh tubuhnya patah.”

Suster Meka tak langsung menjawab. Ia malah meletakan beberapa kantong obat, lalu duduk berhadapan denganku.

“Ceritakan saja!”

Aku melihat senyumnya ketika ia berkata demikian. Senyum khas seorang perempuan yang menyembunyikan sesuatu. Bisa saja seperti itu, karena istriku perempuan dan ia sering sekali tersenyum untuk membuatku terdiam dan mempercayainya. Namun, aku sudah tak mempercayainya lagi sejak ia diam-diam pergi berlibur dengan dokter Sam, kawan lamaku semasa kuliah. Entah apa yang mereka lakukan di sana aku pun tak tahu, yang pasti Cintya putri semata wayangku yang baru duduk di kelas dua Sekolah Menengah Atas mengatakan demikian ketika aku pulang dari luar kota setelah mengikuti serangkaian kegiatan dari rumah sakit jiwa di mana aku bekerja.

“Dok, jangan menjadi pendiam seperti ini. Lupakan kejadian tadi, ingat anda ini dokter spesialis penyakit jiwa!”

Suster Meka mencoba mengingatkanku, namun suaranya seperti cahaya kunang-kunang yang berterbangan di gelap malam, hanya kelap-kelip di mata. Sungguh ucapan yang terdengar samar-samar di telinga, entah apa namanya itu? Tubuhku tiba-tiba menggigil ketika ia mengatakannya. Aku masuk ke dalam situasi yang tak terkendali. Sungguh sebuah pengkhianatan yang tak pernah bisa dimaafkan. Selama hidup bersama istriku, aku tak pernah sedikit pun tertarik dengan wanita lain. Aku bekerja siang dan malam hanya untuk membuatnya bahagia dengan hasil yang aku dapatkan agar ia tidak hidup sengsara bersamaku.

Selama delapan belas tahun menikah kami tak pernah cekcok dan selalu hidup rukun. Keluarga dariku dan darinya sangat menyayangi kami. Bahkan tetangga-tetangga kami menyebut kami Keluarga Cemara. Keluarga harmonis yang pernah menjadi tayangan favorit di salah satu stasiun televisi. Memang kami selalu menjungjung tinggi asas saling menghargai dan bebas mengemukakan pendapat dalam kehidupan sehari-hari. Aku tak pernah melarangnya untuk melakukan kegiatan-kegiatan selama itu positif dan istriku pun demikian. Karena itulah kami selalu bahagia setiap harinya.

“Dok, bicaralah! Bukankah bicara adalah awal dari sebuah jawaban?”

Aku tahu itu, tapi mulutku sudah tak bisa berkata apa-apa selain kata pengkhianat. Istriku sudah berjanji untuk tidak bertemu lagi dengan Sam setelah menikah, tidak pernah sama sekali. Sam itu lelaki brengsek di mataku. Semasa kuliah ia sering mengencani mahasiswi-mahasiswi dan dicampakkan setelahnya. Entah kenapa istriku bisa tertarik padanya dulu, padahal aku sudah mati-matian untuk mendapatkannya.

Walau pun aku dan Sam satu kamar kos, tetapi kami selalu tak sependapat masalah cinta. Bagiku cinta adalah tolok ukur kedewasaan, membuat manusia mengenali dirinya sendiri dan juga orang lain. Cinta bisa menciptakan kedamaian dalam setiap kehidupan. Itu yang aku rasakan ketika bersenda gurau dengannya di beranda kamar kos sebelum Sam dan ia pergi untuk makan malam. Diam-diam aku jatuh hati kepadanya dan berniat merebutnya dari Sam. 

Wajah suster Meka semakin serius menatapku. Kulit wajahnya terlihat mengencang. Suster yang setia menemaniku dalam bertugas kapan pun dan dimana pun. Aku masih menatap wajahnya. Seorang suster yang dimadu oleh suaminya, namun ia sangat tabah dalam menjalankan kewajibannya sebagai istri serta mengasuh anak-anaknya hingga mereka menjadi anak-anak yang menghargai orang tuanya. Sepertinya ia tak ingin kehilangan suasana ini. Matanya seakan memberikan kesempatan kepadaku untuk berbicara.

Aku duduk luruh di depannya, dalam hati menangis. Mengapa istriku tidak setabah suster Meka? Mengapa anakku tidak seperti anak-anaknya? Cintya, akhir-akhir ini jarang di rumah semenjak mengenal Rudi, lelaki berandalan yang tergabung di genk motor. Mereka hampir setiap malam berkumpul di jalan-jalan kota hanya untuk kebut-kebutan atau minum-minuman keras. Bukan aku membiarkannya. Aku sudah berulang kali mendatangi tempat mereka nongkrong dan memaksa Cintya untuk pulang. Bahkan beberapa kali aku sempat menjemput Cintya di penjara karena terjaring oleh patroli dari polisi kota. Alhasil, ia kabur dari rumah bersama Rudi, dan istriku pun entah kapan pulang bersama Sam.

“Dok, jangan menangis!”

Suara lembut suster Meka tidak membuatku tenang. Entah benda apa yang terus bergemuruh dalam dada, kepalaku terasa sangat berat. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa aku sungguh merasa kehilangan oleh rasa cinta. Mungkin bukan aku saja yang merasakan demikian. Tapi ini tak bisa dimaafkan. Bukankah seorang istri harus menghargai rasa cinta suaminya? Ataukah memang istriku sudah tak memiliki rasa cinta? Mengapa ia tidak berterus terang saja kepadaku? Ingin rasanya aku teriak melepaskan segala kepedihan yang semakin menusuk hatiku.

“Tenang dok, jangan berteriak! Ceritakan saja!”
Aku menatap wajah suster Meka berubah putih seperti mayat. Kecemasannya membuatku semakin ingin menjerit dan memaki-maki. Tidak seharusnya ia cemas menatapku. Mengapa kelembutannya tiba-tiba hilang. Ia memegangi tanganku dan berteriak-teriak memanggil seseorang. Jangan-jangan ia memanggil Sam? Suster Meka juga mengenal dia, lelaki yang membawa istriku kabur.

Pintu terbuka, aku menatap orang-orang dengan seragam yang sama seperti yang aku kenakan. Mereka menyergapku dan berusaha mengikat tanganku. Tentu saja aku berontak. Aku bukan penjahat. Mengapa mereka mencoba mengikatku? Kulempari mereka dengan benda-benda yang ada di atas meja. Sementara suster Meka hanya menatap di sudut ruangan, wajahnya seperti wajah istriku ketika ia berada di atas gedung rumah sakit. Murung dan ketakutan. Istriku yang berteriak mengancam akan bunuh diri jika aku tak memaafkannya. Aku sudah sangat kecewa, tak mungkin kumaafkan segala kesalahannya. Kudekati, namun tanganku dipegang sangat kencang oleh para dokter dan suster. Mereka menasihatiku untuk sadar dan memaafkan istriku. Aku terus berontak sekuat tenaga, berusaha mendekat ke arah istriku dan akhirnya terlepas. Langsung kuhampiri istriku yang sudah ketakutan. Namun sebelum aku sampai dan meraih tubuhnya ia terjun dengan suara jeritan yang memilukan. Entah mengapa aku pun turut menjerit dan berusaha terjun menyusul istriku namun suster Meka menahanku. Aku hanya menatap tubuh istriku terlentang di atas mobil ambulance dengan alarm mobil yang terus saja berbunyi.

Air mata tak terasa meleleh membasahi pipiku, rasa sesal tak bisa dipungkiri. Andai aku mengucapkan kata untuk menerima permintaan maafnya tentu ia tak melakukan hal nekat ini. Lambat laun kepalaku terasa ringan, mataku mulai melihat ke sekeliling. Wajah-wajah dokter dan suster dengan keringat mengucur masih tampak cemas. Aku baru menyadari kalau aku berada dalam ruangan dengan tangan terikat. Ruangan yang berantakan seperti sudah terjadi keributan. Suster Meka menatap tajam di sudut ruangan, kuhampiri dan berkata.


“Suster, apakah aku gila?” 

Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893