-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Personifikasi Laut

Nana Sastrawan 

Di telapak tanganku ada laut. Kau sodorkan jala dan kapal yang terbakar, secangkir kopi dan asap rokok mengepul, sebuah tradisi lama di geladak kapal. Para nelayan memasang tiang listrik di tengah laut, sebab bom sudah menjadi barang ilegal. Kutahu, kau tidak ingin memasang bendera tanah air lagi, sebab antara tiangnya ada tawa dan air mata yang terbakar. Kau, melempar ikan ke langit, kanak-kanak dan ibu-ibu bersorak-sorai, dapur mengepul, bau rempah dan perut lapar.

Di kepalaku ada kota. Masih sempat kukenang ketakutan dan suara senapan, busa-busa politikus dan pidato-pidato dari dalam mikrofon. Katanya, laut tidak menjadi batas daratan, kamar mandi untuk menampung kotoran dan air kencing. Orang-orang memenggal ikan di kafe-kafe, meletakkan batu karang di setiap sudutnya. Katanya, laut bukan nenek moyang bangsa yang luhur.

Tubuhku terbelah menjadi dua; kampung nelayan dan kota pelaut. Aku tidak bisa memakai sepatu, sandal. Jangkar telah tumbuh di kaki-kakiku. Suara peluit melubangi dada, kuku-kuku menjelma kail, pakaianku adalah layar. Suara kemiskinan dalam telinga, suara dari gelombang yang menerpa karang.

Tubuhku adalah laut yang terbakar.



(2015)


*puisi ini telah diterbitkan oleh Komunitas Negeri Poci tahun 2016
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893