MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Nana Sastrawan di Universitas Pakuan Bogor


Nana Sastrawan

Sore itu, langit sudah nampak mendung di kota Hujan, orang-orang segera bergegas untuk kembali pulang, namun berbeda di Gedung Pasca Sarjana Universitas Pakuan Bogor. Sore itu, kesibukan sangat terlihat. Para mahasiswa dan mahasiswi berlalu-lalang, mondar-mandir, keluar-masuk dan naik-turun, sebab di dalam gedung itu, tepatnya di lantai 3A, sedang berlangsung acara ‘Parade Puisi’ dari penyair-penyair yang tinggal di Jabodetabek. Acara yang dihadiri sekitar lima ratus mahasiswa dan mahasiswi itu sangat meriah, dan ramai. Para penyair pun unjuk kebolehan.

“Acara ini diadakan bertepatan dengan bulan puasa Ramadan, sebagai ajang motivasi mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Keguruan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Pakuan, agar mereka lebih dapat mengenal karya sastra Indonesia, sekaligus mengenal para penulisnya,” ucap Maman S Mahayana, yang bertindak selaku moderator acara.
Beberapa penyair Jabodetabek menghadiri acara tersebut dengan keikhlasan berbagi, di antara mereka, ada seorang penyair muda, yang sering disebut, ‘Penyair Keras’ yaitu Nana Sastrawan. Dia ikut andil dalam memeriahkan acara tersebut. Nana Sastrawan membawakan puisi karya Ws Rendra, Sajak Orang Lapar.

“Saya selalu senang membaca puisi para penyair terdahulu daripada puisi sendiri. Saya seperti bernostalgia dengan kekuatan puisi-puisi penyair terdahulu, sekaligus bentuk hormat saya terhadap sejarah perkembangan penyair Indonesia,” katanya dengan wajah yang semringah di awal pembukaannya akan membaca puisi pada 23 Mei 2018 lalu itu.

Nana Sastrawan tampil membaca puisi tidak sendirian, dia menggandeng seorang pantomim muda, Ramanda Yuda asal Padang. Kolaborasi Penyair dan Pantomim ini membuat para mahasiswa dan mahasiswi semakin tidak ingin beranjak dari tempat duduknya, mereka menyaksikan dengan terpukau. Klik di sini untuk menyaksikan!


“Dalam membaca puisi, saya selalu ingin menghadirkan visual puisi itu dengan tafsir yang berbeda, sebab puisi ketika dibacakan menjadi media penyampai, agar maknanya dapat diterima dan dihayati,” kata Nana Sastrawan usai melakukan pementasan pembacaan puisi.

Dengan berakhirnya Nana Sastrawan membaca puisi, berakhir pula acara parade puisi yang diselenggarakan di Universitas Pakuan Bogor. Semua yang hadir sangat bergembira, mereka membawa ilmu dan pelajaran baru dari acara tersebut. Apalagi, di tengah-tengah acara kedatangan tamu, artis sinetron APC, Ratu Selvi ‘Idola’, dia pun membacakan puisi sambil sesekali melirik kepada Nana Sastrawan, seolah malu-malu dalam membacakan puisinya. Usai acara, Nana Sastrawan dan Ratu Selvi sempat berbincang sebentar tentang dunia kepenulisan skenario di televisi dan membuat lelucon honorarium aktris televisi. Hihihi.


Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

avatar

Seharus nya domisili dari Padang, asal nya dari bogor...

May 25, 2018 at 3:06 PM
5871077136017177893