-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Icarus dalam Seribu Awan


Puisi karya Nana Sastrawan ini telah dimuat di Antologi Puisi 'Negeri Awan'

Kini aku telah terbang, setelah waktu membuat dua pasang sayap dari ilusi dan delusi. tubuhku tak lagi memiliki bayangan seperti di bumi, dimana orang-orang berjalan mundur dengan kepalanya. hidup yang dibebaskan waktu, menyimpan gema di ketinggian seperti suara yang menempel di relung-relung kecemasan. dimana gunung-gunung, hutan-hutan, samudera dan peradaban menjelma batu hitam di tepi sungai, dengan kesepian yang menikam rasa lapar dan dahaga.

kini aku telah terbang, menyatu dengan seribu awan. putih bergelombang seperti suci, yang bergunduk di angkasa, dilintasi angin, menampung nasibnya sendiri seperti uap lautan yang dihisap panas matahari dan dijatuhkan badai, kemudian menyemai mimpi, menumbuhkan tunas-tunas masa akan datang. ketahuilah, waktu telah dibelah menjadi tiga bagian sebagai jalan menuju keabadian. yakni, ingatan, kekuatan dan pandangan.

inilah icarus dalam seribu awan yang telah dibebaskan oleh bahasa. sebagai aku, yang memilih lenyap dari pandangan, membunuh dirinya sendiri dalam matahari, terbakar, sebab di bumi bayanganku telah menafsirkan hasrat sebagai waktu yang terbelenggu. apakah kau menyaksikan aku jatuh terkapar, hangus seperti hitamnya arang? kau tak pernah melihatnya, seperti aku tak melihatmu. kau tak akan mengenal putihnya seribu awan, sebab pandanganmu hitam di bumi, seperti batu yang meninggalkan sungai, terpasang di kota, dalam gedung-gedung tinggi. seperti candu korupsi yang meruntuhkan demokrasi.

namun aku telah abadi menyatu dalam matahari. kematian yang menghidupkan sebab aku akan datang padamu setiap pagi, menumbuhkan benih, memekarkan bunga-bunga, mengurai kabut yang menjadikannya embun, jatuh ke tanah. dan kau akan mengerti setelah melihat bayanganmu sendiri, sebab begitulah kematian, sangat dekat, terlalu dekat untuk ditinggalkan.
2016

Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893