MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Film Pendek - Kere



Dalam berkarya terkadang kita selalu terkendala dengan media yang akan kita gunakan, khususnya dalam membuat suatu film pendek yang sedang semarak di media sosial. Banyak komunitas-komunitas, instansi pemerintah, sekolah dan banyak lagi yang memproduksi film pendek sebagai ajang promosi atau hanya berkreativitas saja. Suatu ketika Nana Sastrawan dan Dapoer Sastra Tjisaoek mengunjungi seorang sahabat di Maja, dia adalah pelukis senior yang telah banyak melahirkan karya. Melihat suasana perkampungan, Nana Sastrawan langsung mempunyai ide untuk membuat film pendek dengan menggunakan ponsel yang dibawa. Awalnya, teman-teman tidak percaya membuat film hanya dengan ponsel, tanpa naskah, Nana Sastrawan pun mengajak berproses untuk membuat film. Begini ceritanya :

Film ini mengisahkan tentang dua orang muda yang masih menganggur, di sela kesibukannya sebagai pengangguran, mereka mengisi waktu mengamen atau apa saja yang penting dapat uang. Hingga suatu hari, mereka benar-benar tak punya uang, lalu bermaksud untuk mencari uang dengan mudah, yaitu dengan sistem pungli bagi siapa saja yang mereka anggap lemah dan dapat diambil uangnya.
Adang dan Tao adalah nama mereka, dalam kebingungannya dia duduk-duduk di pos pinggir jalan sambil menunggu mangsa. Dua pemuda kampung ini memang terkenal galak dan preman sehingga tidak ada yang berani kepada mereka. Disaat sedang bingung, Ady Bonga, seorang pemuda culun yang memang sedang bingung juga mencari uang, dia sudah lama menganggur, dan berusaha untuk mencari pekerjaan apa saja melintasi mereka. Adang dan Tao melihat ini kesempatan yang tak boleh ditunda, lalu mereka pun memaksa kepada Ady Bonga untuk mengeluarkan uangnya, namun hanya sedikit uang yang dapatkan.

Setelah menunggu lama, tak ada satu pun orang yang bisa dijadikan mangsa, Adang dan Tao pergi dari pos kampung, mereka berjalan gontai menyusuri jalan-jalan kampung. Ketika berjalan mereka melihat sebuah dompet, tanpa basa-basi lagi mereka segera mengambil dompet itu, mereka berebutan untuk memilikinya, mereka lupa kalau mereka adalah bersahabat dalam duka dan suka. Pada akhirnya, mereka sepakat untuk membuka bersama dan membagi dua uang yang ada di dompet itu. Nah, bagaimana kelanjutanya, silakan tonton ya… film ini memberikan pesan yang sangat penting untuk kita renungkan. Salam kreatif!


Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

avatar

Film yang natural, skenarionya sederhana sesuai dengan realitas yang ada. Semangat ya Kang Nana.

September 9, 2018 at 1:29 PM
5871077136017177893