-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Greeting dan Nasi Kucing


Dua puisi karya Nana Sastrawan ini telah dimuat dalam buku Kado Sang Terdakwa

Greeting

Walau kita sering bertemu, namun tak pernah menyapa seperti batu jatuh ke dalam lumpur. Wajah menjadi sore. Seperti lemari, tubuh menyimpan rapi tentang waktu; t-shirt, shirt, pajamas dan meja makan malam. Walau dalam satu ruang, kita tak pernah bertemu. Sejarah menempel di dinding, kantong plastik menyimpan biografi, hari menjadi tua. Adakah jadwal untuk mengenang? Seperti seorang kekasih menatap gambar, sebuah bahasa menabrak pintu, jatuh ke tanah. Kepada siapa kita akan menyapa? Good morning, good afternoon, good evening. Bajumu terkena lumpur dari batu yang jatuh, mungkin musim hujan segera tiba, sebaiknya kita menyapa walau tak pernah bertemu. How are you?

2011


Nasi Kucing
:Riungan Serumpun

Malam ini aku makan sate usus, ayam kecap, goreng tempe, bacam tahu dan minum susu jahe pemberianmu, hadiah perkenalan dari sebuah puisi. Perut rakyat menyimpan ikan teri, sebuah meja yang menceritakan kucing dan sebungkus nasi—pemberianmu, dan sepatu menyembunyikan kamar tidur. Aku ingin mengenalmu lebih dari jam sembilan, sebab kunci rumah tertinggal di beranda setelah pesta. Aih, ada buku dalam kaca mata, siapa yang mengajarkanmu membaca? Bahasa seperti suara detik di jam tangan, menampilkan peristiwa baru kemudian membuat akhir sendiri. Aku akan memanggilmu, jam sembilan nanti.

2011

Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893