-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Dunia

Cerpen Nana Sastrawan yang dimuat di Tangsel Pos edisi 23-24 Juni 2012

Ya Tuhan—dunia telah meninggal, dibunuh. Mengenaskan. Wajahnya rusak, matanya melotot seperti marah terhadap orang yang membunuhnya. Tubuhnya penuh luka cambukan, darah masih menetes dari luka-luka itu, jari-jarinya dipenuhi lumpur. Apa yang terjadi? Bukankah malam ini tidak diwarnai tembakan-tembakan pemberontak? Sungguh kejam manusia yang memberikan penderitaan kepadanya. Kejam, kejam dan biadab. Malam ini keadaan yang indah sedangkan orang-orang tengah lelap dalam dekapan, sebagian duduk-duduk di beranda, beberapa orang juga tengah berjalan dengan langkah gontai usai bekerja. Mereka berjalan melintasi mayat Dunia, tidak ada yang tahu mayat itu tergeletak, tak seorang pun yang tahu atau pura-pura tidak tahu? Karena mereka khawatir dijadikan saksi mata. Angin berubah menjadi dingin. Daun-daun saling bergesekan, pohon-pohon bergerak lembut sedangkan gedung-gedung diam. Tiada hidup, hanya menjulang tinggi menghadap langit, bulan dan bintang-bintang. Lampu-lampu dari gedung memancar ke seluruh ruangan angkasa, tampaklah burung-burung malam berterbangan. Tubuh Dunia dingin, terbujur kaku di pinggiran jalan, tak ada yang mengetahui, sendiri kesepian dalam kematiaan.

***
Pagi hari mayat Dunia sudah dikerumuni manusia. Mereka diliputi curiga dan rasa belas kasihan, mereka saling pandang—mencari sebab musabab. Terdengar suara bisik-bisik pelan sekali.

“Apa yang menyebabkan Dunia mati?”
“Tidak tahu. Tetapi, semalam ketika aku lewat sini ada beberapa orang tengah menyiksanya.”
“Disiksa?”
“Ya. Ada lima orang dengan pakaian aneh.”
“Berseragam? Bukankah sekarang banyak rumor sering ada penyiksaan pada malam hari dari orang-orang berseragam.”
“Tidak. Mereka berpakaian serba putih dengan memakai topi beragam jenisnya. Ada yang bergaya ketimuran, barat, selatan, utara. Dan mereka selalu menyebutkan nama-nama Tuhan.”
“Adakah kelompok keagamaan baru?”
“Tidak tahu.”

Terdengar sirine, kemudian mobil pembawa jenazah tiba dibarengi dengan satu truk polisi. Mereka membubarkan manusia-manusia, polisi-polisi memasang garis tempat kejadian perkara, beberapa dari mereka menyebar ke sudut-sudut tempat itu, anjing pencari jejak dikerahkan; mengendus, menggonggong dan berlari ke sana kemari diikuti oleh polisi yang lihai mencari jejak. Seorang dokter turun dari mobil jenazah, memeriksa keadaan tubuh Dunia. Ia terlihat tegang—keringat bercucuran dan sesekali menutup hidungnya. Tidak terlalu lama ia memeriksa, kemudian mayat Dunia diangkut ke mobil jenazah, dan mobil itu segera pergi dengan suara sirine yang memilukan. Entah mau dibawa kemana mayat Dunia itu?

Manusia-manusia yang dibubarkan segera menuju rumah, kantor, pasar dan tempat-tempat lainnya sambil membawa pertanyaan-pertanyaan mengapa Dunia meninggal? Mereka saling berbisik dan saling tanya kepada manusia lainnya, dan akhirnya kabar Dunia meninggal telah menyebar ke seluruh pelosok negeri hingga akhirnya sampai ke telinga petinggi-petinggi Negara, lalu mereka mengadakan sidang tertutup dengan para perwakilan rakyat.

“Kepada peserta sidang yang terhormat, hari ini kita berkabung atas meninggalkan Dunia oleh karena itu marilah kita mengheningkan cipta sejenak untuk mengenang jasa-jasanya.”
“Ini pertanda buruk!”
“Ya.”
“Pasti akan ada musibah di negeri ini.”
“Lebih baik kita harus buat tim investigasi rahasia agar tahu sebab musababnya.” “Setuju. Biar tidak kualat!”
“Saya takut sekali.”
“Kutukan! Kita akan dikutuk.”
“Aku tidak percaya ini akan menimpa negeri ini?”
“Celaka!”
“Tenang… tenang… saya harap peserta sidang tenang!”

Suasana sidang menjadi riuh, peserta sidang berwajah cemas—mereka seperti memiliki ketakutan yang didasari oleh rasa bersalah dan berdosa. Bahkan ada juga peserta sidang yang menjerit histeris, menangis dan membenturkan kepalanya ke dinding ruangan. Lebih mengejutkan lagi, seorang peserta sidang naik ke podium kemudian tertawa terbahak-bahak, lalu menodongkan pistol ke kepalanya dan terdengar letusan dibarengi rubuh tubuhnya. Semua peserta sidang terdiam—memandang tubuh dengan kepala hancur berlumuran darah lalu saling pandang. Tanpa komando mereka mencabut pistol masing-masing dan menembak kepalanya, Susana hening, mayat-mayat peserta sidang berserakan di sana-sini, bau amis darah. Pimpinan sidang terdiam sambil menatap wakil pimpinan sidang di sebelahnya, wajah wakil pimpinan sidang sangat gelisah dan ketakutan, kemudian pimpinan sidang bekata dan mengetuk palu tiga kali.

“Baiklah, sidang ditutup! dan jadikan tanggal ini sebagai hari berkabung nasional.”

***

Tiga hari setelah kejadian itu terjadi kekacauan di sana sini, manusia-manusia berunjuk rasa menuntut kepada pemerintah agar segera mengusut dan menemukan siapa pembunuh Dunia. Mereka menggelar mogok makan, aksi jahit mulut, aksi cambuk diri dan jalan-jalan utama kota diwarnai berbagai macam slogan dengan berbagai macam tulisan menghujat. Mereka yang berdemontrasi bermukim di depan kantor-kantor pemerintah, kantor polisi dan kantor wakil rakyat, dan berorasi.

“Temukan pembunuh Dunia!”
“Polisi harus bertanggung jawab!”
“Pemerintah jangan lemah!”
“Usut sampai tuntas pembunuhan Dunia!”

Akibat aksi mereka yang terus terjadi berhari-hari seluruh kegiatan ekonomi lumpuh total mengakibatkan perputaran uang tidak stabil sehingga muncul masalah baru yaitu jarah-menjarah dan kelaparan. Toko-toko makanan, pasar dan swalayan menjadi sasaran mereka; diburu, dirusak, dijarah dan dibakar. Kini terjadi pula kelompok-kelompok manusia: golongan kaya, menengah dan miskin. Kelompok-kelompok itu saling mempertahankan wilayah masing-masing dari serangan-serangan kelompok lainnya. Sering terjadi juga kontak fisik antar kelompok sehingga menimbulkan kekacauan baru dan tentu korban-korban baru. Dalam kejadian ini, kelompok golongan miskin yang paling menderita mereka tak dapat berbuat apa-apa hanya sesekali melakukan perlawanan akan tetapi mereka tak begitu kuat untuk melawan golongan-golongan kaya yang memiliki persenjataan canggih. Dan pada akhirnya mereka memilih menjadi budak, agar dapat bertahan hidup.

Di tengah kekacauan itu ada dua orang manusia yang mengendap-ngendap untuk meninggalkan kota. Mereka hanya membawa pisau dan sepucuk senapan, kedua mata itu memiliki pandangan berbeda; polos dan tajam. Mereka mengawasi keadaan—mencerminkan putus asa.

“Mengapa ini terjadi, ayah?”
“Ini akibat Dunia meninggal.”
“Mengapa Dunia meninggal, ayah?”
“Dibunuh oleh orang yang tak dikenal.”
“Mengapa Dunia dibunuh, ayah?”
“Entahlah, mungkin dia bersalah.”
“Mengapa orang yang bersalah harus dibunuh, ayah?”
“Karena kesalahannya mengakibatkan penderitaan.”
“Mengapa penderitaan disebabkan dari kesalahan, ayah?”
“Sudahlah nak, kita harus bergegas pergi sebelum kita yang terbunuh.”
“Apa salah kita ayah, hingga mereka ingin membunuh kita?”
“Kita tidak tahu salah atau tidak. Yang ayah tahu, kebenaran sudah tidak jelas saat ini.”

Mereka berlari dan sesekali berhenti untuk bersembunyi, menghindari peluru-peluru atau oang-orang yang tidak mengenal mereka. Sebab, jika mereka terlihat oleh kelompok-kelompok itu maka mereka akan diburu. Manusia yang memiliki sepasang mata tajam itu melirik ke arah manusia yang memiliki mata polos—ia menatap tubuh kurus kecil dan napas yang turun naik tak teratur, tak ada barang-barang yang harus dibawa atau diselamatkan, membawa tubuh sendiri saja terasa sangat berat dalam situasi genting seperti ini.

“Apakah kamu takut?”
“Tidak, ayah. Aku heran dengan kejadian ini.”
“Hus…Orang miskin tidak boleh merasa heran atau berpikir!”
“Mengapa, Ayah? Apakah mereka akan membunuh kita hanya karena berpikir.”
“Tidak tahu. Apabila jika kita terlalu banyak berpikir, maka kita lupa akan bekerja. Dan orang miskin tanpa bekerja berarti mereka mengirimkan dirinya pada kematian.”
“Ayah, apa kita akan keluar dari tempat ini? Aku tidak betah.”
“Sabar, Nak!”

Dua orang manusia itu tampak berlari lagi menuju sebuah toko yang hampir hancur. Pintunya terkunci tetapi kaca dan jendelanya telah hancur, barangkali hanya terkena lemparan batu, dan barang kali terkena bom. Mereka masuk ke dalam toko untuk bersembunyi dan melanjutkan pelariannya setelah keadaan membaik di jalan-jalan kota. Keadaan di dalam toko lebih berantakan dibandingkan keadaan di luar toko. Makanan-makanan berserakan di sana-sini, rak-rak penyimpanan makanan tumpang tindih, dan yang lebih membuat buruk keadaan ini adalah mayat-mayat manusia-manusia miskin yang menjarah—mereka ditembaki sehingga darah-darah mereka berceceran tercampur dengan makanan-makanan.

Kipas angin berdenyit di langit-langit. Warna atap biru, memudar seperti warna langit yang perlahan digeser mendung. Dua manusia itu segera memungut makanan-makanan yang tidak tercampur darah, lalu melepaskan baju dan membungkusnya. Tiba-tiba, terdengar suara letusan, manusia bermata tajam itu roboh menimpa makanan-makanan. Manusia bermata polos, menjerit.

“Ayaaaah!!!”

Dia menyerbu mayat lalu memeluknya, dan terdengar suara letusan lagi, lalu tubuhnya terasa nyeri, dibagian punggung. Dia membalikan badan melihat ke arah suara letusan, dan moncong senjata tepat di dahinya, lalu gelap setelah letusan ketiga terdengar.

***

Di hutan dalam sebuah goa, tempat terpencil dari perkotaan. Cahaya lilin hanya menyinari ruangan goa, lilin-lilin yang diletakan di atas batu-batu di dinding-dinding goa. Keadaan dingin, udara seperti tak bersikulasi. Lembab. Terdapat lima manusia dengan memakai pakaian serba putih, bertopi aneh mereka duduk saling berhadapan mengelilingi sebuah batu bundar yang hanya ada sebatang lilin di atasnya. Tangan mereka menyilang di dada masing-masing dan mata terpejam seperti orang yang melakukan semedi. Tetapi, mereka tidak bersemedi, barangkali sedang berdoa? Belum tentu juga berdoa, mereka hanya berdiam diri, hanya berdiam diri. Kemudian mata mereka terbuka bersamaan dan mulai terjadi perbincangan.

“Siapa korban selanjutnya?”
“Tuhan.”

Selesai, 28 februari 2012

Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893