-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Menziarahi Kitab Hujan



   -kepada Nana Sastrawan

Puisi adalah upaya kita untuk menziarahi huruf; menisani setiap kata dan memakukannya ke dalam tanah makna. Pada kata kita letakkan perasaan, pada kalimat kita susun ratap, harap, kerjap, dentum, deru, kelu, pilu, sembilu. Kalimat membentuk sekuel; mencipta mozaik, membangun bab, meninggikan pasal, mengokohkan kitab. Puisi merupakan kenyataan yang tumpang tindih. Ia menjadi. Dan puisi yang menjadi adalah sebuah dunia, begitu Chairil Anwar bertutur. Puisi yang menjadi memiliki syarat dan ciri-ciri yang tidak mudah. Seperti syarat dan ciri dunia yang selalu bersifat kompleks dan atau majemuk.

Puisi yang menjadi dunia itu saya temukan di antara beberapa tumpukan kitab. Kitab Hujan. Puisi yang lahir dari tangan dingin Nana Sastrawan ini telah membuktikan betapa puisi bisa menjadi suatu dunia; yang benar ada, nyata, konkrit, terbaca dan bukan rekayasa. Puisi itu mulanya mengusik kepekaan saya. Kemudian menjadi sangat mengganggu hari-hari saya. Alhasil, saya tertarik untuk mengupasnya. Sebab, puisi Kitab Hujan itu, jika saya lihat secara selintas, banyak yang tidak bisa dipahami hanya dengan satu kali duduk. Ia membutuhkan perenungan yang panjang. Agaknya, satu tahun, sejak saya kenal Nana, adalah waktu yang cukup untuk menguak rahasia di balik belantara Kitab Hujan yang rimbun itu.

Dilihat dari struktur kata yang dibangun dalam Kitab Hujan, diksi dan metafora yang terkandung di dalamnya sangatlah kaya. Alegori yang mencuat dengan indah sangat tak biasa dipakai oleh kebanyakan penyair. Di sanalah letak keunikan Kitab Hujan. Kita akan disuguhi dengan berbagai kemungkinan; multi-tafsir, pengembangan dari satu kata ke kata yang lain, kata-kata yang kemungkinan mengandung anak makna. Kesemuanya membaur bersama renjana kalimat yang bukan klise.

Titik mengagumkan dari Kitab Hujan tidak hanya terdapat pada struktur. Pola pengungkapan dan pola penjabaran juga sangat memesona. Kita akan menemukan makna yang selalu melahirkan persepsi yang berbeda di tiap pembacaan. Satu kali pembacaan meninggalkan kesan. Dua kali pembacaan menghadirkan ironi. Tiga kali pembacaan dan seterusnya menyuguhkan keunikan makna dan ritme gagasan yang mendayu-dayu, berliku-liku. Saya akan mengajak anda menziarahi Kitab Hujan itu. Akan kita temui bersama-sama, apa yang barangkali pernah musykil di benak kita, tentang berbagai hal yang kerap ajaib namun tak tersedari.

Kitab Hujan dibuka dengan ungkapan puitik yang prosais. Dengan sedikit berkerut dahi kita akan memulai menanyakan beberapa hal:

Setiap pagi, aku terbangun dengan buku yang baru saja dipinjam dari toko sepatu, tapi bukan di deretan sepatu. aku menemukannya di meja kasir yang penjaganya seorang wanita. kita berbincang tentang apa saja, tapi bukan sepatu. kita berbincang tentang canda dan diam. setelah itu kau mulai nakal dengan meminjam tubuhku dan memungut hidup dalam kepalaku lalu kita pun sepakat menukar buku.
buku yang hanya tiga bab

Buku, toko sepatu, dan wanita. Tiga kata kunci ini perlu kita pegang. Kita gambarkan bahwa aku-penutur adalah ia yang punya cerita. Cerita yang penting ia rekam untuk kemudian ia ungkapkan kepada orang lain. Aku-penutur terbangun dengan buku. Terbangun, bisa jadi adalah terlahir dan lantas tumbuh menjadi dewasa. Penyair ini mengibaratkan terlahir dengan begitu apik. Terbangun dari tidur tidak semata mencirikan kelahiran seseorang. Lebih dari itu, kenangan telah mewadahi dirinya dalam satu bejana yang ia namakan hidup. Hidup itu membawanya ke suatu kisah saat ia meminjam buku di toko sepatu yang dijaga oleh seorang wanita. Buku. Kata ini mencapai maknanya yang paling tak dinyana. Buku memberikan kita pengertian mengenai begitu banyak catatan tentang hidup; kesedihan tercatat, kepedihan tertulis, kepiluan tergambar. Buku pada puisi itu, bisa kita bawa kepada makna: bahwa buku adalah potret diri aku-penutur yang sebenarnya adalah rahasia.Toko sepatu barangkali tidak begitu saja bisa kita maknai secara denotatif. Tersebab nanti, di akhir puisi ini, akan ada loncatan-loncatan yang tak terduga mengenai toko sepatu. Kita akan melihatnya nanti.

Pada lanjutan puisi: … kita berbincang tentang apa saja, tapi bukan sepatu/ kita berbincang tentang canda dan diam/ setelah itu kau mulai nakal dengan meminjam tubuhku dan memungut hidup dalam kepalaku lalu kita pun sepakat menukar buku. Kita menemukan adanya peralihan dari yang semula aku-penutur bercerita ke aku-penutur bercakap dan bermaksud berkata-kata hanya pada ia, sang wanita. Maka, kata yang aku-penutur gunakan beralih menjadi kita. Begitulah, di sinilah letak kepiawaian penyair ini. Ia sangat jeli meletakkan kapan subjek menjadi objek dan kapan objek berubah subjek. 

Selain bahwa peralihan itu menunjukkan adanya kedekatan asmara antara aku-penutur dengan wanita penjaga toko sepatu, sebenarnya masih ada alternatif lain untuk membangun makna dari penggalan puisi itu. Aku-penutur bisa jadi memaksudkan bahwa yang ia gumami dari awal memanglah orang yang satu. Jadi, tidak pernah terjadi peralihan orang kedua. Tapi, kita akan membawanya kepada makna pertama. Meskipun bisa dipastikan bahwa pembaca memiliki berbagai tafsir mengenai hal tersebut. Anggaplah apa yang saya utarakan di sini adalah sebagian dari tafsir yang sebenarnya belum tuntas dan tidak bersifat konklusif.

Kita melihat adanya kenangan yang mulai ditorehkan di dalam buku (baca: potret diri). Aku-penutur menyusun kejadian-kejadian dalam dirinya untuk kemudian, pada pungkasnya, ia dan si wanita bersedia saling menukar buku; saling menukar diri dan pinjam-meminjam kebahagiaan, lalu kesedihan yang bakal terlukis pada lanjutan puisi itu.

Puisi itu dilanjutkan dengan muatan mengenai tiga bab:

bab pertama 

cerita tentang wajah yang muram
hitam, legam
guratan luka mendendam

dari wajah itu sering terdengar gaung dan penuh orangorang hitam mencangkulcangkul wajah, namun tetap saja hitam, meskipun sudah sampai dasar mereka terus saja mencangkul

Bab pertama ini mencakup dunia riil. Dunia yang dihadapi oleh manusia. Ada alasan kenapa manusia bisa saja memiliki cerita tentang wajah yang muram. Bahkan untuk ukuran orang awam, sampai kalangan intelektual, tak mampu menampik kemungkinan terburuk dari hidup ini; berupa kepedihan dan kesedihan. Hidup, meski dalam suasana bahagia, tak berhasil menyumbat keresahan manusia akan hilangnya nyawa. Lantas, manusia bagai orang yang terus mencangkul meskipun sudah sampai dasar. Artinya, ia terus melakukan kesia-siaan dalam hidupnya. Ia akan berpisah dan meninggalkan apa yang musti ditinggalkan. Juga, ia akan ditinggalkan oleh siapa yang harus meninggalkan. Di sinilah letak keresahan manusia.

Wajah yang muram yang sering terdengar gaung adalah perumpamaan yang purna tentang kematian. Yang mati menyisakan guratan luka mendendam entah pada siapa. Sebab, tiada yang musti didendami kecuali kehidupan yang pantas mati. Kehidupan akan niscaya menemui mati. Tiada hidup jika tanpa mati. Tiada mati jika tiada hidup. Orang-orang hitam yang mencangkul-cangkul wajah ialah perumpamaan tentang siksa yang tak terkatakan, yang senantiasa memberet hati setiap yang menemui kematian. Atau yang ditinggal mati. Wajah adalah lambang diri manusia, ia bisa dikatakan ada tersebab diketahui dengan dan oleh wajah.

Hidup tiada lain adalah untuk menuju kematian.

Dan bab kedua melanjutkan ziarah kita:

bab kedua 

hanya ada sepasang mata
meneteskan airmata
tak terhingga
dan air mata itu bersuara
menjerit bahkan tertawa

air mata itu menjadi gelombang pasang
menggulunggulung, semakin riuh
memporakporandakan sepasang mata
dan pecah
berhamburan air mata
lalu menjadi gelombang
dan gelombang itu saling menyerang

Bab kedua: berkisah tentang orang yang ditinggalkan oleh yang ia cintai. Dan kesedihan tergurat jelas di kedua matanya. Hanya mata yang sanggup berbicara tentang rasa sedih yang tiada hingga: hanya ada sepasang mata/ meneteskan air mata/ tak terhingga. Ketika mulut tak berhasil menemukan kata yang tepat untuk melukiskan kesedihan, maka matalah yang akhirnya bisa menyuarakannya. Mata yang membasah bagai curuk yang deras kian basah dan kian deras.

Kita melihat adanya perasaan yang pecah, moyak dan hancur. Kita dibawa menyusuri goa dengan dinding-dindingnya yang selalu menampakkan kegelapan hingga nun jauh ke dalam. Kita dibuatnya ketakutan, akan gelap, akan tiadanya lentera, akan absennya cahaya. Kematian telah membawa yang mati dan yang ditinggalkan kepada titik hitam yang selalu menakutkan dan meresahkan. Hingga ada yang bersuara dari dalam diri kita; dan air mata itu bersuara/ menjerit bahkan tertawa. Airmata menjerit, bahkan tertawa? Paradoks! Kita menemukan paradoks di sini. Tapi justru di situlah menariknya puisi ini. Bahwa paradoks kadang bisa memunculkan pengertian baru. Airmata, sebagai simbol kesedihan paling akhir. Dan tertawa, sebagi simbol kebahagiaan paling sempurna.

Jika disalah-pahami, maka akan terjadi pertentangan diski. Namun, kita layak menduga, bahwa kadangkala, kesedihan adalah parodi. Kesedihan yang berkelanjutan menjadi semacam kelucuan yang tanpa disengaja. Larut dalam duka yang dalam akhirnya mencapai puncaknya pada arti terdalam dari tawa. Tawa adalah ekspresi tingkat akhir ketika airmata tercurah habis.

Dalam duka, airmata menggulung dengan ganasnya. Puncaknya, airmata menyerang mata dan mata menjadi gelombang, lagi dan lagi. Gelombang dalam gelombang. Tiada akhir, selalu berkutat dan perputar seperti rantai. Yang mata dan yang airmata membahasakan tiap-tiap kepedihan dan kematian. Yang mati menyelam jauh ke dasar airmata itu. Hingga tenggelam dan mati lagi, kesekian kali.

Bab ketiga: di sinilah puncak dari puisi ini.

bab ketiga

hening

Hening! Hanya ada kata ‘hening’ di bab pamungkas. Kata ini amat padat. Ia menyimpan segala yang terekam dalam bab sebelumnya, yang kemudian menjadi semacam klimaks dari puisi ini. Satu kata itu mampu mewakili apa saja tentang kematian, kehilangan, dan airmata. Segala bentuk kepedihan tertampung di dalam kata itu. Sampai pada akhirnya, hanya hening yang adalah mati. Mati adalah keheningan paling hening!

Begitulah, tiga bab dalam buku yang aku-penutur tukar dengan buku wanita penjaga toko sepatu itu, terselesaikan. Narasi mengalir lagi, membikin kelindan dan hentakan kepada kita, pembaca. Penyair ini kembali bercerita:

setiap sore, aku selalu berkunjung ke toko sepatu itu untuk mengembalikan buku. toko itu selalu tutup dan becek. hanya ada sepatu bot tergeletak, lalu ku tatap tajam dan aku menemukan buku yang sama penuh lumpur.

Kita telah menemukan makna toko sepatu pada bait puisi ini. Toko sepatu tidak lain adalah tanah pusara. Dibuktikan dengan selalu tutup dan becek. Pusara adalah ia yang tertutup dan becek akibat airmata. Toko buku yang pernah aku-penutur temui dulu, barangkali sama dengan toko buku yang kini tutup dan becek. Hanya saja, jika mungkin, toko sepatu seharusnya menjual banyak sepatu, di toko sepatu pusara itu, kita hanya mendapati sepatu bot tergeletak. Penyair ini membawa kita kepada makna yang sungguh mengesankan. Sepatu bot yang tergeletak, tidak lain adalah batu yang menisani pusara. Batu yang tak sanggup membenturkan kesedihan dan keresahan. Batu yang tak mampu menampung airmata. Batu yang kian kikis ditimpa hujan tiada henti.

Saat aku-penutur menatap sepatu bot itu, ia mendapati buku yang sama penuh lumpur. Buku yang adalah kenangan. Kenangan itu ikut ternodai, dipenuhi lumpur pusara. Kenangan itu pun, bakal mati dan kejadian serupa akan terulang, terus dan sampai setiap yang pernah buku menjadi toko yang selalu tutup dan becek.

Kita telah menziarahi Kitab Hujan. Kita pun dibuat basah airmata oleh penyair ini. Kurang ajar!

~Dimuat di facebook M.S. Arifin Catatan Edisi 06/VI/28 April 2014~



Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893