-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Bulan Perak di Tubuh Perawan

Bulan perak. Angin dingin dan daun berguguran di malam ini, aku berlari keluar rumah. Biasanya di malam seperti ini aku menghisap opium dan meminum anggur, tetapi kegetiranku lebih dulu menguasai seluruh perasaanku. Aku terus berlari menyusuri jalan kota yang mulai sepi, gedung-gedung, taman-taman kota dan akhirnya terhenti di sebuah stasiun. Lengang dan diliputi kecurigaan. Aku duduk di sebuah bangku panjang dimana ada seorang wanita tengah tertidur pulas, kuperhatikan dia. Wajah yang gelisah—dibungkus bedak dan lipstik, rupanya ia kelelahan. Mungkin dia pelacur yang kelelahan melayani pelanggan-pelanggannya. Tetapi wajahnya seperti istriku, apa mungkin istriku seorang pelacur? Tidak, tidak, istriku bukan pelacur. Aku tak mengganggu tidurnya, mataku menatap kesekeliling dan bulan masih perak. Tiba-tiba wanita itu menggeliat dan terbangun kini jelas wajahnya terkena sinar perak. Aku terkejut, ternyata ia memang istriku, mengapa dia tidur di bangku stasiun kereta ini?

Ia tersenyum padaku, kemudian berkata:

“Kamu ingin menjemputku pulang?”
“Tidak.”
“Lantas?”

Aku terdiam—menatap wajahmu, dan ingin kuceritakan apa yang aku sudah lakukan dari apa yang kamu inginkan, suatu hal yang mengganggu hari-harimu di dalam rumah kita. Sebenarnya aku tak sanggup melakukan keinginanmu, sangat sulit untuk aku mengerjakannya. Akan tetapi, aku sangat mencintaimu lebih dari aku mencintai Tuhan. Mengapa? Karena ketika aku mengenalmu perasaanku berbunga-bunga, aku merasakan kebahagian yang tiada tara. Seperti langit yang diliputi pelangi, mungkin ini yang dinamakan kasmaran? Wajahmu sangat memesona ketika itu, jalanmu berlenggak-lenggok sehingga pinggulmu bergoyang seirama. Aku tak kuasa menahan gejolak hatiku yang ingin memiliki seluruh dirimu. Itulah cinta, yakni perasaan ingin memiliki apa yang menjadi keinginan.

Apa kamu masih ingat ketika kita bertemu, istriku? Di sini di stasiun ini. Kamu duduk di sebelah sini, di atas bangku di pinggir rel ketika bulan berwarna perak. Cahaya perak itu menyinari seluruh tubuhmu sehingga aku tak dapat membedakan yang mana yang lebih bercahaya; kamu atau bulan. Dan pada akhirnya aku menyakini bahwa bulan itu yang tersorot cahaya dari tubuhmu. Kamu memainkan bunga mawar yang baru saja dibeli dan berdendang lagu cinta. Ah, aku lupa lagunya. Sebentar aku ingat-ingat dulu! Oh ya, lagunya seperti ini: Cinta, akan kuberikan bagi hatimu yang damai, cintaku gelora asmara seindah lembayung senja, tiada, ada yang kuasa, melebihi, indahnya, nikmat bercinta. Lagu Chrisye yang membuatku semakin terpacu untuk mendekatimu. Wajahmu ketika itu sangat ceria—taburan bedak tipis dan goresan lipstik di bibirmu membuai jantungku. Kamu tidak tahu ya? Saat itu ada tiga lelaki yang mengawasimu dari sudut sana—mereka berbisik-bisik, entah apa yang  dibincangkan. Namun, aku menduganya mereka akan melakukan kejahatan kepadamu, tiba-tiba kamu melangkah pergi, dan matahari mulai gelap. Aku urungkan niat untuk mendekatimu, akan tetapi aku mengikutimu karena tiga lelaki itu pun mengikutimu dengan tampang bengis. Entahlah, apa yang tengah direncanakan Tuhan? Kejadian itu sungguh diluar kuasaku, kau memilih jalan yang gelap-gelap atau memang sengaja memancing ketiga orang lelaki itu?

Benar dugaanku, mereka menghadang dirimu. Wajah mereka semakin bengis—aku menatapmu dari balik pohon jalan yang ketika itu masih ditumbuhi semak belukar liar. Mereka menerkammu seperti anjing-anjing yang kelaparan. Kamu menjerit, berontak, tanganmu memukul-mukul mereka dengan sembarangan, kakimu menendang-nendang dan terus menjerit. Namun suaramu ditelan kesepian dan aku hanya menatapmu dari balik pohon  ini, melihat semak belukar itu rebah di tempat kejadian akibat diterpa tubuh-tubuh mereka yang berusaha menyeretmu ke tengah semak belukar, suasana malam ini terasa sangat sunyi, bisu, membiarkan kepedihan. Sementara aku mungkin pengecut, aku tak dapat menolongmu. Karena badanku terlalu kecil untuk melawan mereka yang berbadan kekar dan bertato, rambut gondrong dan mungkin mabuk. Akhirnya mereka berhasil menyeretmu, aku masih menyaksikan itu—mereka merobek-robek pakaianmu kemudian mengikatmu. Ngilu aku melihatnya, entahlah apa yang mereka lakukan. Aku merasakan dadaku sakit sekali, rasanya menyergap ke seluruh tubuhku, suara rintihanmu berdenyit di telingaku. Setengah jam kejadian itu berlangsung dan aku hanya duduk terpaku.

Kemudian, mereka meninggalkan semak-semak dengan tawa terbahak-bahak. Menggelegar, memecahkan jantungku. Setelah terlihat jauh—aku mendekat. Perlahan, langkahku diatur agar tak meninggalkan suara yang mencurigakan, lambat-laun. Tubuhku mulai kurundukkan ketika memasuki semak-semak. Semak yang padat sehingga udara malam mengumpul, dingin dan mencekam. Semakin dekat aku melangkah, terdengar suara isak tangisan, dan semakin mendekat semakin nyaring isak itu. Bulan perak saat itu, seperti malam ini. Perak bercahaya. Kudapati kamu terlentang dengan tangan menutup wajah, menangis terisak-isak, cahaya bulan menyorot tubuhmu yang setengah telanjang. Redup, tak kutemukan lagi cahaya dari tubuhmu, warnanya seperti matahari tertutup awan mendung; muram dan hitam.

Kupandangi seluruh tubuhmu—wangi mawar yang tadi sore aku cium hilang berganti aroma alkohol, rokok dan keringat lelaki. Mataku terus meneliti kebagian dadamu, dua buah payudara yang segar menyembul sedikit merah dan ada beberapa goresan, kemudian kulit putih perutmu tersorot bulan perak berkilauan, aku menatap bagian bawah tubuhmu, tercium bau amis. Ada warna merah di pangkal pahamu, darah. Merembes pula di dedaunan kering. Kamu masih saja terisak-isak, sungguh biadab memang perbuatan mereka, aku jongkok untuk menyadarkanmu. Tiba-tiba kamu terperanjat, kemudian merangkak mundur—aku mendekati mencoba menenangkanmu, namun kamu terus saja mundur sambil berkata: Jangan ganggu! Jangan ganggu! Jangan ganggu! Aku menatap matamu yang masih melelehkan air mata, ada pandangan kasihan. Bagiku, kamu wanita yang sempurna, tak ada noda ketika melihatmu pertama kali, memiliki gaya gravitasi yang menarik hatiku untuk jatuh cinta padamu.

Ya, cinta pada pandangan pertama sungguh menakjubkan. Kelebihanmu, memiliki wajah sangat cantik seperti artis-artis di film sinetron. Namun perasaan kasihan itu tergeser oleh rasa ingin memiliki ketika pertama kali menatapmu di stasiun itu, perasaan itu terus menjalar keseluruh tubuh dan akhirnya menguasai seluruh nafsu. Memicu syaraf-syarafku, mendidih darah dan pikiran semakin kacau balau. Seluruh tulang dalam tubuhku mengeras, mendebarkan jantung sehingga napasku tak beraturan. Wajahku menegang, kulit-kulit wajah mengencang, pasti akan sangat bengis daripada tiga bajingan tadi. Gigiku gemeratak menahan nafsu, lalu kutangkap tanganmu dan kurangkul. Rasa lelah telah menyelimuti tubuhmu, kamu hanya menangis, dan pasrah. Berulang kali aku menciumimu, meremas dan melakukan apa yang seharusnya aku belum boleh lakukan. Yakni menyetubuhimu.

Setelah semuanya terjadi, kita tergeletak di semak-semak menatap bulan perak. Keringat bercucuran deras dari seluruh tubuhku, sementara isak tangismu masih saja terdengar. Kita lemah terkulai seperti dua ekor ikan yang kehabisan tenaga di daratan, megap-megap. Aku belai rambutmu untuk menghilangkan kecanggungan, kamu masih terisak. Kemudian kamu berkata pelah, pelan sekali: Apa kamu juga akan lari seperti mereka?

Aku terdiam. Kugeserkan badanku dan kutopang kepala dengan tangan kanan, dan menatap wajahmu lagi. Kini wajah itu mulai menandakan kesadaran. Aku berkata kepadamu bahwa aku akan mempertanggung jawabkan perilaku ini. Aku bukan bajingan, tidak pernah dididik menjadi bajingan oleh ibuku. Aku akan menikahimu. Kemudian ku kenakan jaketku ditubuhmu dan membantumu, membangunkanmu lalu memapah menuju rumahku. Sesampainya di rumah, ibu hanya menatap kami. Dua orang manusia laknat. Oh, bukan aku yang laknat sementara kamu korban kelaknatan. Ibu berdehem, lalu melotot setelah aku ceritakan kejadiannya. Ia mengambil pisau. Kami mundur, dan ia duduk mengupas bawang sambil menangis, aku menatap kamu, kemudian kamu menunduk. Ibuku kecewa, pasti sangat menyesal melahirkan anak seorang pemerkosa. Tetapi, ibuku tak akan merasakan penyesalan itu karena ibuku sudah lama gila. dan kami selamat dari amukannya, ibuku terus saja memotong bawang sampai jari-jarinya tergores lalu aku menghentikannya dan membalut jari-jari yang terluka, sudah hampir seluruh tangannya tergores pisau sejak ia gila dan selalu memotong bawang di malam hari kemudian menggedor-gedor kamarku untuk tidur bersama denganku. Masa lalu membuatnya gila, masa lalu yang menyakitkan. Aku tidak ingin bicara banyak kepadamu tentang ibuku, aku hanya minta izin untuk menikah denganmu dan dua hari kemudian kita menikah tanpa perayaan.

Setelah, dua tahun menikah kamu hanya tak memberikanku perubahan yang lebih baik atau mungkin aku yang tidak baik denganmu. Ah, mungkin karena kamu rela dinikahi karena kesucianmu telah tiada dan aku salah satu yang merenggutnya. Aku sungguh biadab, penyesalan yang tiada akhir menghantui perasaanku. Kamu jarang pulang, dan ketika pulang dalam keadaan mabuk. Perilakumu semakin hari semakin buruk seperti ibuku yang setiap hari mengamuk di rumah. Kamu bilang: Aku tak betah di rumah bersama perempuan gila yang selalu mengganggu kita ketika tengah bercinta. Memang begitulah keadaannya, ibuku setiap malam menggendor kamarku untuk turut tidur bersama kami, dan itu memang yang sering ia lakukan ketika aku belum menikah. Istriku marah, nafsu bercintanya semakin besar setelah menikah, mungkin hasrat tiga orang bajingan itu telah menular kepadamu. Bahkan aku dengar kabar bahwa kamu telah menjadi pelacur mungkin untuk memuaskan hasratmu bercinta. Ya, menjadi pelacur di pinggiran rel stasiun atau balas dendam kepada dirimu sendiri? Bisa jadi menunggu tiga bajingan itu untuk di perkosa kembali olehmu? Mungkin….. putus asa? Entahlah, Aku tak mempercayai itu. yang aku tahu kamu menyuruhku membunuh ibuku jika memang aku mencintaimu agar dapat di rumah dengan tenang dan bercinta dengan nyaman.

Malam ini, aku lakukan keinginanmu, kuhampiri ibu yang tengah menatap langit-langit kamarku. Kemudian kutusuk jantungnya dengan pisau yang biasa ia pakai untuk memotong bawang. Ia tak menjerit atau pun marah, hanya tersenyum dan mengejang-ngejang kemudian diam. Psikologiku terguncang, aku pembunuh, bajingan, penjahat, manusia laknat, laknat, terkutuk. Aku berlari, terus berlari dengan perasaan sedih tercampur marah pada diriku sendiri. Dan pada akhirnya di sini denganmu istriku. Kamu tersenyum padaku dan berbisik:

“Mengapa kamu diam? Sudah kamu bunuh ibumu agar terasa indah dunia kita!”

Sekali lagi bulan perak menyorot tubuhmu dari atas langit, tubuh yang putih dan semakin berkilau. Namun kini tubuh itu terpoles oleh hasrat dan kebencian, terlalu berat untukku menanggung ini. Cinta memang buta dan gila, cinta melahirkan kebencian dan kebahagiaan, cinta menjadikan manusia pendusta. Tetapi baiklah, aku katakan saja yang sudah terjadi pada ibuku. Kupandangi wajahmu sekali lagi—kemudian ku buka mulutku perlahan, beban berat dalam hati menghimpit, terasa sakit ketika ingin berbicara. Tiba-tiba, seorang lelaki gendut menghampiri kami dan memegang tangan istriku. Ia berkata:

“Bagaimana jika 200 ribu semalam?”

Istriku merangkul pinggulnya yang tebal dan berlalu meninggalkan aku. …***


Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893