-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Asmara : Bagian Kesembilan



Tak sanggup aku sembunyi. Dari semua peristiwa yang tengah aku alami, hari-hari yang menyenangkan akan berubah menegangkan ketika memasuki halaman rumah. Tidak ada lagi penyambutan dari mamah dan papah ketika aku pulang dari sekolah, seperti dulu.  Sekarang kaki ini beku. Seolah melangkah ke rumah, adalah memasukan diri ke dalam sebuah penjara. Namun, aku belum bisa menghindar, aku harus masuk ke dalam rumah.
            Mata ini memandang halaman rumah, ada yang aneh. Semua di dalam rumah gelap-gulita. Apa mungkin mamah dan papah akan membuat kejutan untuk hari ulang tahunku ini? Seperti juga teman-teman di kampus yang membuat aku menangis terharu. Kuberanikan diri masuk ke dalam rumah, pintu tidak terkunci. Aku menyalakan korek api, agar jalan yang akan kulalui terang-benderang.
            “Mah, Pah!” panggilku.
            Namun tak ada jawaban, rumahku ini berubah sunyi, seperti memasuki kuburan. Kuraba-raba tembok, agar aku tidak tersandung.
            “Mah, Pah! Kok gelap sih?”
            Tetap saja tak ada suara yang menyahut. Hanya mataku menangkap sekelebat bayangan, jantung ini berdebar-debar. Kuangkat korek api lebih tinggi, agar api dapat menerangi lebih jauh dari jarak pandang.
            Ini hari ulang tahunku, apa mungkin mamah dan papah membuat kejutan untukku? Tentu sangat menyenangkan jika itu terjadi, seperti dahulu, aku selalu mendapatkan kejutan ketika ulang tahun. Dari kecil, ulang tahunku memang sering dirayakan.
            Aku melangkah ke ruang tengah, terasa sepi.
            “Mah…”
            Tak ada suara, jantung berdebar-debar, ketakutan menyergap, aku tak ingin bertemu hantu, apalagi sekarang sedang musim film-film hantu. Bisa-bisa aku melihat pocong, suster ngesot atau genderowo. Sering sekali jika aku melihatnya di dalam rumahku sendiri, lebih baik aku segera menuju kamar.
            Akan tetapi ketika berbalik, aku menubruk sesuatu.
            “Aw… jangan ganggu aku, hantu!” jeritku sambil memejamkan mata.
            Sesaat hening.
            “Kamu baru pulang?”
            Aku memberanikan membuka mata, dihadapanku papah berdiri sambil mengacungkan lampu baterai.
            “Papah? Kok gelap semua sih?” hati ini terasa lega.
            “Mati lampu,” ucap papah sambil melangkah dan meletakkan lampu baterai di atas meja.
            Mamah muncul dari kamar, rupanya memang mati lampu, tak ada kejutan ulang tahun. Aku menatap mereka, semua biasa-biasa saja. Mungkin papah pergi ke dapur untuk mengambil lampu baterai dan mamah menunggu di kamar. Aku masih berdiri, berharap ada pelukan hangat dari mamah dan papah lalu berbisik mengucapkan selamat atas hari kelahiranku.
            Tak ada yang terjadi. Semua membisu, aku beranjak dari ruang tamu, menuju kamar tidur, dengan sebatang lilin yang diberikan oleh mamah sebelum aku masuk kamar. Lilin kuletakkan di atas meja belajar, sebuah poster W.S Rendra tengah membaca puisi terkena sinar lilin, tampak gagah.
            Inikah cita-citaku? Menjadi seperti mereka? Bukan itu yang terpenting, bagiku menentukan nasib sendiri adalah hal yang sangat perlu diperjuangkan. Negeri ini sudah kehilangan banyak hal, aku tidak ingin menjadi orang-orang yang ikut menghilangkan. Aku ingin menjadi pribadi yang bisa menemukan kembali, apa yang telah hilang itu.
            Kurebahkan tubuh di atas kasur, menatap poster itu dengan hati berdebar-debar. Entah apa yang membuatku berdebar, mungkinkah kekagumanku tentang dia, atau ketakutanku untuk mencapainya? Saat ini, aku juga merasakan kehilangan dalam diriku, kasih dan sayang orang tua. Aku juga merasa takut menjadi anak durhaka.
            Air mata perlahan menetes. Hari ulang tahun yang sungguh menyedihkan, di dalam rumah seperti di dalam penjara. Orang-orang yang dulu menyayangiku, mengejar-ngejarku telah pergi, aku tidak memiliki siapa-siapa.
            Trrtt… Trrrt… Ponselku bergetar.
            “Halo!”
            “Hey, sombong sekali yang sudah jadi mahasiswa!”
            “Raka?”
            “Ternyata kamu masih ingat suaraku,” kata Raka.
            “Hehe. Tentu saja aku ingat, ini nomormu yang baru?”
            “Iya.”
            “Ooh… kamu sekarang ada dimana?”
            “Di dekatmu, coba kamu lihat ke luar jendela!”
            Aku bangkit dari tempat tidur, membuka jendela, lalu menatap ke sekeliling luar rumah, berharap menemukan Raka di sana, namun sepi.
            “Kamu dimana?”
            “Aku ada di langit,” katanya.
            Dengan terheran-heran, aku mengalihkan pandangan ke langit, kemudian kulihat kilatan cahaya dan meledak di langit, kembang api berwarna-warni menghiasi langit malam. Hati ini bahagia sekali menatapnya, dan kembang api itu berkali-kali meledak, menemani hati yang sunyi.
            “Selamat ulang tahun, Bunga!”
            Air mata yang menetes, berubah menjadi kebahagiaan. Seperti hujan, Raka hadir menyirami jiwaku yang kering.


foto diambil dari ilalangkota.blogspot.com
Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893