-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Tiga Puluh Dua Tahun di Dalam Kamar Mandi


Nana Sastrawan

Aku memasuki kamar mandi, menanggalkan pakaian, sebuah cermin memandang tubuhku. Ada dosa yang terlihat, menyisakan kepedihan dan kesunyian, seolah keduanya adalah jalan menuju ketiadaan. Aku memutar keran, air mengalir, suaranya mengiris pilu. Aku ingin menjauh dari suara air, tetapi masih ada cermin yang memandang tubuhku, aku ingin sembunyi di kamar mandi dari kepedihan dan kesunyian. Tetapi kamar mandi ini bermarmer Cina, di dalam gedung bergaya Eropa.

Aku memandang air itu, ada diriku terbawa hayut ke selokan, kotor dan miskin. Kemudian diriku jatuh ke dalam sungai-sungai kota yang hitam pekat, bau industri, dihempaskanlah ke lautan yang keruh, terbawa gelombang, diseret menuju pelabuhan kecil dimana Chairil meraung-meraung.

Disana, aku menjadi pendiam, sejak para serikat buruh, petani, nelayan ditembaki sebab demontrasi meminta haknya kepada kapitalis. Aku melihat asap dari kebakaran hutan, gunung-gunung yang digunduli oleh kekuasaan, aku menyaksikan pasar-pasar berhamburan dalam kecemasan ditengah politik Amerika.

Aku memasuki kamar mandi, bau pesing, sebuah cermin retak memandang tubuhku yang tersisa separuh, setelah tiga puluh dua tahun.

Puisi ini telah dimuat di buku kumpulan Puisi Munsi yang diterbitkan oleh Balai Pustaka

Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893