-->
MGt6NGZ6MaVaMqZcMaV6Mat4N6MkyCYhADAsx6J=
MASIGNCLEANSIMPLE101

Literasi Dini ke Literasi Global



Literasi Dini ke Literasi Global

Dalam perkembangan zaman dewasa ini, sering kita melihat kejadian yang tidak pada tempatnya, khususnya pada anak-anak. Misalnya, anak sekolah dasar sudah mengendarai motor, bonceng bertiga. Permainan game yang berkonten dewasa semakin marak diakses, sering terlihat berbondong-bondong menaiki mobil truk, entah mau pergi ke mana? Bermain atau bekerja? Tidak hanya itu, anak-anak juga sudah tidak mengenal lagu-lagu, mereka lebih mengenal lagu-lagu dewasa, dangdut dengan lirik dan goyangan yang tidak pantas dengan usianya. Tidak sampai di situ, anak-anak juga diberikan akses yang mudah melalui media sosial di internet. Dan segudang peristiwa lainnya yang sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita sendiri.
Tentu saja, kejadian-kejadian itu membuat kita mengelus dada seolah dunia anak-anak sudah hilang ditelan oleh peradaban teknologi dan percepatan pembangunan. Namun, jika kita telaah lebih dalam, kita dapat menemukan akar permasalahan dan jalan keluarnya. Kita, tidak pernah dapat melarang peradaban atau menghalanginya, namun kita bisa menjaga anak-anak dari perkembangan peradaban, khususnya yang bersifat negatif. Anak seperti kertas kosong, atau air yang jernih, orang dewasalah yang memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal dunianya sendiri dan memberikan pendidikan yang aktif.
Pada 3 Juni 2019, Lembaga Auladi Islami di Rajeg, Tangerang mengundang seluruh orang tua siswa untuk mengikuti ‘dialog literasi’ bersama Nana Sastrawan, satu di antara penulis Indonesia.
“Sejujurnya Bapak dan Ibu, permasalahan anak-anak kita adalah karena kurang komunikasi antara kita sebagai orang tua, guru sebagai pendidik dan lingkungan sebagai wadah ekspresi anak. Sehingga mereka berkreativitas yang berlebihan, pada akhirnya menimbulkan hal yang tidak sesuai dengan usianya,” ucap Kak Nana.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua, Kak?” tanya seorang ibu.
“Ngobrol dan ajak bermain. Luangkan waktu kita untuk bermain dengan mereka di rumah, dan jangan marah kalau anak gangguin kita ketika kita cape pulang kerja. Justru, ketika kita mengusir mereka, misalnya: udah sana nonton TV aja, jangan ganggu Bapak atau Ibu, kita cape pulang kerja. Si anak merasa dirinya tidak diperhatikan. Jadi, jangan menyalahkan mereka kalau mereka belok arah.”
Semua saling pandang dan tersenyum, dan dialog pun semakin mengalir sesekali diselingi canda tawa untuk mencairkan suasana. Nana Sastrawan pun menyarankan untuk mengajak orang tua dan guru untuk melakukan pendekatan Literasi kepada anak-anak sehingga pertumbuhan daya pikir, rasa dan cipta berkembang dengan baik.
Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Literasi adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sejak Dini, anak-anak kita sudah disiapkan menghadapi dunia global, dunia keterbukaan. Jika pemantapan literasi dikuatkan pada anak-anak kita, maka mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang dewasa.
“Ya…. Ibu sama Bapak bisa ngedongeng, ngajarin berhitung, nemenin ngegambar, atau bila perlu karokean bareng lagu anak. Diajak bergembira aja di rumah gitu, anak jangan terlalu ditekan untuk menyelesaikan masalah sendiri sebab mereka memang belum mampu, tapi kita kawal untuk dapat mandiri. Nah, dengan begitu anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang kreatif dan berkarakter.”
Tentu saja, manfaat dari Literasi sangat luas dampaknya pada perkembangan anak, apalagi sudah ditanamkan pada usia-usia dini. Di antaranya adalah :
1.      Mengoptimalkan kinerja otak karena sering digunakan membaca dan menulis
  1. Mendapatkan infomasi baru
  2. Menemukan kosa kata baru
  3. Meningkatkan Kreativitas dan Imajinasi
  4. Mempertajam ingatan
  5. Membantu berkomunikasi lebih baik
  6. Mulai mengenal yang baik dan buruk
  7. Tumbuh menjadi pribadi yang dewasa
  8. Mengenal perbedaan dan persamaan hingga terhindar dari sifat egois
  9. Mencintai sesama makhluk
  10. Merangsang sikap peduli terhadap sesama dan tolong menolong
  11. Berlaku adil
  12. Dan lain-lain
Seluruh yang hadir pun merasa terobati kegelisahannya selama ini. Ya, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka, tidak pernah ada orang tua yang tega membuat anaknya terlantar atau tidak berpendidikan, namun perlu diingat rasa cinta dan sayang yang berlebihan pun dapat menjerumuskan anak-anak kita pada pilihan yang salah. Literasi adalah pondasi untuk meningkatkan kualitas kognitif, afektif, psikomotorik dan spiritual pada anak-anak kita, sehingga di masa yang akan datang mereka dapat menghadapi dunia global dengan kepribadian yang matang.
       

Share This Article :
Nana Sastrawan

Nana Sastrawan adalah nama pena dari Nana Supriyana, S.Pd tinggal di Tangerang, lahir 27 Juli di Kuningan, Jawa Barat. Menulis sejak sekolah menengah pertama, beberapa karyanya banyak dimuat di berbagai media, tulisan skenarionya telah dan sedang difilmkan. Ia senang bergerak dibidang pendidikan, sosial dan kebudayaan di Indonesia. Dia juga sering terlihat hadir di berbagai kegiatan komunitas seni dan sastra Internasional, kerap dijumpai juga tengah membaca puisi, pentas teater dan sebagai pembicara seminar. Laki-laki yang berprofesi sebagai pendidik di sekolah swasta ini pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Dia juga menerima penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Karya sastranya berupa buku kumpulan puisi adalah Tergantung Di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010). Beberapa karya sastranya berupa puisi dan cerpen tergabung dalam Menggenggam Cahaya (2009), G 30 S (2009), Empat Amanat Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2010), Hampir Sebuah Metafora (2011), Kado Sang Terdakwa (2011), Gadis Dalam Cermin (2012), Rindu Ayah (2013), Rindu Ibu (2013). Dan beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Kumpulan Cerpennya, ilusi-delusi (2014), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Tahun 2017 dan 2018 tiga bukunya terpilih sebagai buku bacaan pendamping kurikulum di SD dan SMA/SMK dari kemendikbud yaitu berjudul, Telolet, Aku Ingin Sekolah dan Kids Zaman Now. Dia bisa di sapa di pos-el, nitisara_puisi@yahoo.com. Dan di akun medsos pribadinya dengan nama Nana Sastrawan. Atau di situs www.nanasastrawan.com. Karya lainnya seperti film-film pendek dapat ditonton di www.youtube.com.

5871077136017177893